Pejuangkantoran.com – Guy Kawasaki, mantan pionir marketing di Apple dan sekarang evangelist di Canva pernah menyebutkan bahwa ada satu keputusan yang sangat sulit dalam dunia karier seseorang.
Bahkan Kawasaki menyebutnya sebagai salah satu keputusan terberat dalam hidup seseorang. Keputusan karier ini adalah keputusan kapan harus bertahan dan kapan harus melakukan pivot (berputar arah).
Kawasaki mengakui rumit dan kompleksnya keputusan ini, karena ia sendiri pernah melaluinya saat memutuskan berhenti dari sekolah hukum setelah hanya dua minggu menjalaninya.
Melakukan keputusan untuk quit (berhenti), pivot (berputar), atau persevere (bertahan) dalam karier seseorang memang bukan keputusan mudah. Ini karena di setiap keputusan membawa konsekuensi yang rangkaiannya panjang.
Tak hanya urusan karier, rasa percaya diri, mental, hingga finansial keluarga pasti akan terdampak oleh keputusan ini. Agar keputusan memilih salah satu dari ketiganya, ada baiknya kita mengenal terlebih dulu defines masing-masing, alasannya, serta kapan sebaiknya dilakukan.
Baca Juga: Menurut Ahli Karier dari LinkedIn Ambisi Tenang Itu Membuatmu Bijak Mengambil Keputusan Karier
- Quit (Berhenti)
Definisi: Meninggalkan pekerjaan saat ini secara penuh, baik untuk istirahat, berganti bidang, maupun mencari arah baru.
Biasanya dilakukan ketika:
- Nilai pribadi dan nilai perusahaan sudah tidak sejalan.
- Tidak ada lagi ruang berkembang (mentally stuck).
- Pekerjaan memberi tekanan berlebihan tanpa makna atau arah yang jelas.
- Lingkungan kerja toksik dan tidak bisa diubah.
Tujuan: Memberi ruang untuk reset mental, eksplorasi hal baru, atau memulai babak karier yang berbeda sama sekali.
Contoh: “Saya resign karena ingin menekuni dunia akademisi nonformal setelah 15 tahun di korporasi.”
Baca Juga: 6 Kalimat Sederhana yang Bisa Membuatmu Terlihat Profesional, Karier Jadi Melaju Lebih Cepat!
- Pivot (Berputar Arah)
Definisi: Mengubah arah karier, namun tetap memanfaatkan pengalaman atau keterampilan yang sudah ada untuk memasuki bidang baru.
Biasanya dilakukan ketika:
- Masih ingin bekerja, tapi bidangnya tidak lagi memberi tantangan.
- Melihat peluang di area lain yang lebih sesuai dengan potensi diri.
- Ingin menghindari stagnasi tanpa harus memulai dari nol.
Tujuan: Menyesuaikan diri dengan perubahan industri atau kebutuhan pribadi, tapi tetap “berbekal” kompetensi lama.
Artikel Terkait
Stuck dengan Pekerjaan? Jangan Dibiarkan karena Bisa Timbulkan Masalah Fisik dan Psikologis
Jangan Hanya Bekerja Keras, Begini Cara Kamu Bisa Membuka Peluang Karier Agar Lebih Maju
4 dari 10 Pekerja Muda Mengikuti Saran Karier dari TikTok, Langkah Bijak atau Justru Berbahaya?
Tak Sadar Ucapkan 7 Kalimat Ini, Bisa Jadi Tanda Kalau Kamu Sudah Siap Resign
Post-holiday Turnover, Resign Setelah Liburan. Apa yang Bisa Dilakukan Karyawan dan Atasan?
Punya Pekerjaan dengan Gaji Tinggi tapi Melelahkan, Cari Tahu Kapan Waktunya Bertahan dan Resign