Dalam budaya kerja yang tidak terbuka, penyimpangan bisa tertanam lebih dalam dan bahkan tak terlihat karena dibungkus oleh sistem yang tampak canggih.
Risiko ketergantungan pada AI
Secara teori, AI seharusnya menghemat waktu manusia dari pekerjaan rutin agar bisa fokus pada hal-hal penting seperti pembinaan tim, strategi, atau pengembangan budaya kerja.
Namun, banyak perusahaan justru menggunakan AI untuk mengurangi keterlibatan manusia, bukan memperkuatnya.
Baca Juga: Mengenal Desa Pemuteran yang Masuk Daftar 52 Desa Wisata Terbaik 2025 oleh UN Tourism
Menurut Morrison, ketika terjadi ketergantungan pada AI, perusahaan sering menyederhanakan masalah kompleks menjadi data semata. Hasilnya? Muncul solusi dangkal yang tidak menyentuh akar masalah.
Louisa Loran, seorang konsultan bisnis, menambahkan, “AI sudah membentuk keputusan kita sehari-hari. Namun, ujian sebenarnya adalah seberapa lama manusia bisa tetap sadar dan kritis dalam membuat pilihan, sebelum menyerah pada kenyamanan otomatisasi.”
Ketergantungan pada AI secara berlebihan bisa memperparah penyimpangan yang ada, menghambat keadilan dalam perekrutan, promosi, dan penilaian kerja.
Selain itu, manusia bisa kehilangan kemampuan penting seperti berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan memahami konteks.