Pejuangkantoran.com – Perkembangan teknologi: artificial intelligence (AI), otomatisasi, dan digitalisasi diakui memang sangat membantu meningkatkan produktivitas.
Sebuah riset di Massachusetts Institute of Technology (MIT), seperti yang dimuat di web site economics.mit.edu, menemukan fakta bahwa ketika sekelompok pekerja (marketer, analis data, HR, manajer) diberikan akses ke ChatGPT‑3.5, waktu penyelesaian tugas mereka menjadi lebih cepat sekitar 40% dengan kualitas output yang meningkat 18%.
Di sisi lain, penggunaan AI ini mendorong perubahan-perubahan yang begitu cepat dan tuntutan kerja yang lebih tinggi. Tentu harapan yang tinggi seperti ini menjadi tekanan tersendiri saat ini.
Untuk bisa bertahan, beradaptasi, dan berkembang dengan baik dalam dunia kerja yang seperti ini, emotional resilience di tempat kerja adalah salah satu kunci utama.
Emotional resilience (ketangguhan emosional) adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi, menyesuaikan diri, dan pulih dari tekanan, kegagalan, atau situasi emosional yang sulit tanpa kehilangan kendali diri atau semangat hidup.
Baca Juga: Grit Atau Keuletan Atau Kegigihan Sangat Berpengaruh Pada Keberhasilan. Apa Ciri-Ciri Karakternya?
Dengan kata lain, ini adalah daya tahan mental dan emosional yang membuat seseorang tetap tenang, fokus, dan optimis meski sedang berada di bawah tekanan atau menghadapi kegagalan.
Angela Duckworth (psikolog dari University of Pennsylvania) menyebut emotional resilience sebagai inti dari “grit”, yaitu ketekunan dan semangat jangka panjang dalam mengejar tujuan.
Sedangkan menurut American Psychological Association (APA), resilience adalah “the process of adapting well in the face of adversity, trauma, tragedy, threats, or significant sources of stress.” Maksudnya, seorang individu yang berhasil menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi yang ia hadapi.
Secara umum, ketika seseorang menerapkan emotional resilience di tempat kerja akan memberikan dampak yang terlihat sebagai berikut:
- Lebih tenang menghadapi konflik.
- Produktivitas meningkat karena fokus tidak mudah pecah.
- Hubungan dengan rekan kerja lebih sehat dan saling menghargai.
- Dapat menavigasi perubahan organisasi tanpa panik.
Baca Juga: 10 Strategi Kunci Adaptasi Bagi Gen Z dan Fresh Graduate Ketika Masuk Dunia Kerja Profesional
Bagaimana cara menerapkan emotional resilience di linglungan kantor/kerja? Berikut penjelasannya:
- Kelola Emosi dengan Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Apa artinya: Sadari perasaanmu sebelum bereaksi.
Penerapan di kantor:
- Saat mendapat kritik dari atasan, jangan langsung defensif, coba tarik napas, dengarkan dulu, lalu respon dengan tenang.
- Gunakan pause rule, yaitu beri jeda 3–5 detik sebelum merespons sesuatu yang memicu emosi.
Tujuan: menjaga profesionalisme dan kejelasan berpikir.