2. Solopreneurship akan meningkat
Ketika perusahaan tidak bisa memberi fleksibilitas, generasi muda cenderung menciptakan jalannya sendiri. Banyak dari mereka ingin menjadi bos untuk diri sendiri dengan membangun bisnis kecil, brand kreatif, atau usaha solo lain.
Kata Dr. Monahan, “Alih-alih mendaki tangga orang lain, mereka menciptakan tangga mereka sendiri.”
3. Konsep “sukses” akan berubah
Dulu, sukses berarti kuliah, kerja mapan, beli rumah, dan berkeluarga. Namun, bagi generasi muda kombinasi utang pendidikan dan biaya hidup membuat jalur itu tidak selalu realistis.
Mereka mendefinisikan kesuksesan sebagai fleksibilitas, kesehatan mental, dan waktu. Menurut generasi muda, kekayaan emosional dan fisik lebih penting daripada pencapaian materi.
4. Ikatan komunitas di tempat kerja akan berkurang
Dengan karier yang lebih fleksibel, hubungan jangka panjang di kantor mungkin menurun. Namun, generasi muda akan membangun komunitas di tempat lain, seperti di ruang digital, komunitas kreatif, atau kelompok berbasis minat.
Ini membuat identitas mereka tidak lagi melekat pada perusahaan.
Apakah “karier minimalis” cocok untuk semua orang?
Tidak selalu. Pilihan ini sangat bergantung pada kondisi hidup, tujuan, dan cara kamu memaknai diri sendiri.
“Karier minimalis” cocok untuk kamu yang mengutamakan kesejahteraan, otonomi, dan hidup seimbang. Meskipun mungkin ada beberapa pengorbanan, seperti kenaikan jabatan yang lebih lambat.
Pada akhirnya, ini hanya salah satu cara menjalani karier. Tidak ada cara yang paling benar. Hal yang paling penting adalah kamu memilih jalan yang membuat hidup terasa lebih bermakna dan sesuai dengan yang kamu butuhkan. ***