kubikel

Sad Banget, 1 dari 4 Manajer Ternyata Lebih Suka kalau Tidak Usah Memimpin Orang Lain

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:14 WIB
Ilustrasi: Apa yang terjadi jika setelah naik jabatan ternyata manajer baru ini tidak happy dengan pekerjaannya? (Freepik)

PejuangKantoran.com - Kita mungkin pernah mengalami atau menyaksikan rekan kerjamu yang kerjanya jago banget di bidang yang ia jalani, lalu tiba-tiba diangkat jadi manajer.

Niatnya baik, sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Timnya malah berantakan, dan manajer baru tadi malah kelihatan stres dan nggak happy.

Ternyata, perasaan ini bukan cuma asumsi. Riset dari Gartner baru-baru ini menunjukkan adanya masalah serius dalam dunia manajemen.

Baca Juga: Mengenal 4 Penanggalan: China, Jawa, Hijriah, dan Masehi dari Berbagai Aspek

Hanya sekitar sepertiga pemimpin HR yang merasa manajer lini depan mereka efektif. Dari sisi karyawan pun sama sedihnya: cuma 38% yang puas dengan kualitas atasan mereka.

Lalu, apa yang salah? Apakah HR memilih manajer yang kurang kompeten?

Jadi manajer karena terpaksa

Banyak perusahaan yang masih terpaku pada pola pikir lama: kalau seseorang jago di bidang teknis, dia pasti mampu memimpin orang. Padahal, itu dua hal yang berbeda banget.

Survei pada tahun 2025 menemukan fakta mengejutkan, yaitu satu dari empat manajer sebenarnya lebih suka kalau mereka tidak usah memimpin orang sama sekali. Angka ini naik dibanding dua tahun lalu.

Masalahnya, proses pemilihan manajer kita seringkali melihat ke belakang, bukan ke depan. Perusahaan cenderung mempromosikan orang berdasarkan performa masa lalu mereka sebagai kontributor individu.

Baca Juga: Begini Cara Memanfaatkan Karakteristik Shio Kuda untuk Keuntungan Kamu di Tahun Kuda Api

Namun, perusahaan tidak benar-benar menguji apakah mereka punya minat atau bakat untuk mengelola konflik, melakukan penilaian karyawan, atau memberikan feedback yang sulit kepada rekan kerja.

Mencegah sebelum terlanjur

Supaya tidak terus-menerus dipimpin oleh manajer yang kurang kompeten, HR perlu mengubah cara mainnya. Jangan biarkan posisi manajer jadi hadiah yang pasif. Sebaliknya, jadikan itu pilihan aktif yang disadari.

Salah satu caranya adalah dengan menyampaikan sisi gelap dunia manajemen sebelum menaikkan jabatan karyawan yang dianggap jago.

Halaman:

Tags

Terkini