Sad Banget, 1 dari 4 Manajer Ternyata Lebih Suka kalau Tidak Usah Memimpin Orang Lain

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 17 Februari 2026 | 13:14 WIB
Ilustrasi: Apa yang terjadi jika setelah naik jabatan ternyata manajer baru ini tidak happy dengan pekerjaannya? (Freepik)
Ilustrasi: Apa yang terjadi jika setelah naik jabatan ternyata manajer baru ini tidak happy dengan pekerjaannya? (Freepik)

Perusahaan perlu memberi simulasi atau semacam magang singkat pada karyawan andalan ini untuk menangani tugas-tugas administratif yang membosankan, atau menghadapi percakapan sulit dengan anggota tim yang bermasalah.

Dengan begitu, calon manajer bisa membuat keputusan yang jujur, "Apakah saya benar-benar mau melakukan ini setiap hari?", atau "Apakah saya mampu memimpin orang lain?".

Selain itu, perusahaan perlu menyediakan jalan keluar tanpa sanksi. Maksudnya, kalau kamu sudah mencoba jadi manajer lalu merasa tidak cocok, kamu harus diperbolehkan kembali ke posisi teknis sebelumnya tanpa merasa malu, atau dianggap gagal secara karier.

Bagaimana jika tidak suka jadi manajer?

Kalau kamu di pihak manajer baru yang enggan saat harus mengarahkan kerja tim kamu, jangan langsung merasa tidak mampu bekerja. Coba pahami dulu, apakah rasa enggan itu sifatnya permanen atau bisa kamu tingkatkan.

Baca Juga: Apa sih Manfaat Makan Cokelat Hitam? Ini Jawaban buat Kamu yang Suka Ngopi di Kantor!

Ada manajer yang merasa kewalahan hanya karena mereka belum percaya diri atau merasa beban kerjanya terlalu berat. Kalau kamu mengalami hal ini, mintalah pelatihan dan dukungan tambahan dari HR.

Tapi, ada juga manajer yang memang dasarnya tidak suka berurusan dengan orang. Mereka lebih bahagia bekerja sendiri di depan layar.

Kalau kamu tipe yang terakhir ini, memaksakan diri bertahan di posisi manajer hanya akan merusak moral tim dan produktivitas perusahaan dalam jangka panjang. Mintalah agar HR bisa mempertimbangkan untuk mengembalikan kamu pada posisi sebelumnya.

Manajemen adalah keterampilan, bukan sekadar gelar. Menaikkan jabatan pada orang yang salah bisa bikin produktivitas jadi seret. Selain itu, juga bikin karyawan terbaik bisa kabur karena punya manajer yang kurang kompeten karena tidak mampu memimpin orang lain.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap naik jabatan sebagai satu-satunya jalan untuk meningkatkan posisi kita di kantor.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Harvard Business Review

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X