PejuangKantoran.com - Banyak pemimpin atau manajer punya prinsip kalau jadi bos itu harus blak-blakan. Memang, kritik yang jujur bisa bikin karyawan makin berkembang. Namun, itu hanya berlaku kalau cara menyampaikannya dipikirkan matang-matang.
Masalahnya, banyak yang nggak sadar kalau batasan antara jujur dan menghina itu kadang setipis tisu.
Riset terbaru menunjukkan fakta yang cukup pahit. Bukannya bikin performa naik, kritik yang sifatnya merendahkan atau mempermalukan justru bikin kerjaan makin berantakan.
Baca Juga: Murah dan Cepat Saji, Begini Etiket Bersantap di Resto Sushi Conveyor Belt di Jepang
Dalam sebuah survei terhadap lebih dari 402 karyawan di AS, ternyata 81% di antaranya pernah kena semprot yang sifatnya destruktif atau merusak. Sedihnya lagi, sekitar 78% responden masih ingat jelas rasa sakit hati itu sampai bertahun-tahun kemudian.
Meski mungkin mengakui kesalahan teknisnya, tetapi rasa dipermalukan dan hilangnya rasa percaya diri bakal lebih membekas. Kalau rasa percaya sudah hilang, jangan harap produktivitas meningkat. Bisa bertahan saja sudah bagus.
Berangkat dari riset tersebut, bisa disimpulkan lima bentuk feedback yang paling merusak mental karyawan:
1. Menghakimi tanpa memberi solusi. Ini jenis umpan balik yang paling banyak terjadi. Atasan cuma marah-marah tanpa memberi tahu cara melakukan pekerjaan. Karyawan jadi bingung dan malah makin sering bikin salah karena takut.
"Dia nggak kasih tahu apa ekspektasinya atau apa yang harus saya benerin. Dia cuma marahin saya gara-gara kesalahan itu," ujar salah seorang responden.
"Akhirnya saya malah bikin kesalahan yang sama berkali-kali sampai saya bilang kalau saya butuh kejelasan apa yang salah. Baru deh di situ saya diajarin."
Baca Juga: Film 'Laut Bercerita' Dibuat dengan POV Semangat Pemuda yang Ingin Melakukan Perubahan
2. Feedback yang salah sasaran. Sekitar 67% orang merasa pernah dikritik berdasarkan informasi yang nggak lengkap atau malah salah sasaran. Rasanya pasti gondok banget kalau usaha kita nggak dihargai karena atasan cuma melihat dari satu sisi.
"Saya dikritik karena nggak melakukan hal-hal yang dari awal emang nggak diminta," ujar salah satu karyawan.
Kalau bentuk feedback yang diberikan saja sudah tidak akurat, karyawan bakal mulai mempertanyakan kredibilitas si bos dan keadilan sistem di kantor.
3. Merendahkan lewat sikap (bukan cuma kata-kata). Kadang, yang bikin sakit hati itu bukan omongannya, tapi gaya bicaranya. Memutar bola mata, mengucap "ck" yang meremehkan, atau pakai nada menyindir itu dampaknya sangat besar.