kubikel

5 Bentuk Feedback yang Paling Merusak Mental Karyawan, Kredibilitas Si Bos Bisa Dipertanyakan!

Selasa, 3 Maret 2026 | 13:41 WIB
Ilustrasi: Kritik yang diberikan dengan cara merendahkan termasuk bentuk feedback yang paling merusak mental karyawan. (Freepik)

"Dengusan dia... bikin saya merasa kalau masalah saya itu nggak penting. Akhirnya saya merasa nggak bisa ngapa-ngapain dengan bener, padahal situasinya lagi kritis," kenang seorang responden.

4. Menyerang karakter, bukan pekerjaan. Bentuk feedback ini sudah masuk ranah personal. Bukannya bilang "laporan kamu kurang rinci," si bos malah bilang "kamu itu emang pemalas." Ini bisa merusak mental karena bikin orang merasa dirinya nggak berguna.

"Saya dikritik dibilang pemalas, telat terus, dan nggak berguna," cerita salah satu karyawan. Ada juga yang bilang, "Dia bilang kalau saya lah sumber masalahnya dan saya itu tukang bully."

Umpan balik yang menyerang karakter cuma bikin orang merasa malu, bukan belajar.

Baca Juga: Mengapa Kemampuan Beradaptasi Kini Lebih Diutamakan untuk Memimpin ketimbang Resiliensi?

5. Mempermalukan di depan umum. Ini puncaknya. Dikritik di depan rekan kerja, di grup WhatsApp kantor, atau saat rapat, itu rasanya parah banget.

"Dia ngeritik saya di depan semua teman sejawat, bahkan di depan bawahan saya sendiri. Rasanya parah banget. Dia harusnya bisa ngomong secara pribadi, bukan di depan umum," timpal responden yang lain.

Efeknya bukan cuma ke si korban, tapi ke satu tim. Semua orang jadi belajar kalau bikin salah itu nggak aman. Akibatnya mereka lebih milih diam daripada jujur kalau ada masalah.

Pelajaran yang bisa kita dapat, memberi masukan itu butuh empati. Intinya, kalau kamu ingin orang lain jadi lebih baik, tunjukkan jalannya, bukan cuma tunjuk kesalahannya. Dengan demikian karyawan bukan hanya mampu bertahan, produktivitas meningkat juga.

Halaman:

Tags

Terkini