Pejuangkantoran.com – Dalam posisi kamu sebagi team leader atau bahkan manajer, terkadang kamu berhadapan dengan kondisi di mana ada orderan mendadak dari klien besar dan sudah sering closing.
Kamu harus mengoordinasi pekerjaan tersebut kepada anggota tim yang pada saat yang sama juga sedang mengerjakan project lain.
Tantangannya adalah kamu harus bisa meminta anggota tim untuk meluangkan waktu mengerjakan orderan klien besar tersebut dan tidak ada penolakan dari anggota tim tersebut.
Secara umum, kamu dituntut untuk tidak terkesan otoriter namun menegaskan bahwa pekerjaan tambahan tersebut harus dikerjakan, suka atau tidak suka.
Biasanya kamu akan memberikan pilihan yang tidak ada pilihan untuk menolak pekerjaan tersebut, pilihan yang mengarahkan bahwa anggota tim harus mengerjakannya.
Inilah yang dinamakan bounded choice. Ini adalah teknik komunikasi atau pengambilan keputusan di mana seseorang diberikan pilihan yang terbatas (biasanya 2–3 opsi), namun semua opsi tersebut sudah mengarah pada hasil yang diinginkan oleh pihak pemberi pilihan.
Sederhananya, kamu bebas memilih namun ruang pilihanmu sudah “dibingkai”.
Bagaimana bounded choice ini berperan dalam dunia profesional (dunia kerja/kantor)? Berikut penjelasannya:
Baca Juga: 7 Kesalahpahaman dari Bounded Choice yang Mesti Kamu Tahu Agar Terhindar Konflik dengan Atasan
Definisi Operasional
Dalam konteks psikologi dan komunikasi persuasif, bounded choice itu akan membatasi alternatif keputusan sehingga mengurangi kompleksitas kognitif (decision fatigue) dan mengarahkan keputusan tanpa terlihat memaksa
Teknik ini sering digunakan saat melakukan penjualan (sales closing), pendidikan, parenting, atau negosiasi.
Dalam dunia profesional, bounded choice ini bisa diterapkan untuk berbagai kepentingan. Berikut ini contoh praktiknya:
1.Dalam sales/marketing: Pembeli diarahkan untuk tidak ada opsi “tidak beli”, hanya memilih level pembelian.