Pejuangkantora.com – Dalam dunia kerja, dikenal tiga pilar prinsip retorika Aristotle, yaitu pilar logos, pathos, dan ethos. dalam operasional kerja modern, pilar ini sangat kontekstual dan relevan.
Ketiga pilar ini lahir bermula ketika filsuf Plato (guruya Aristotle) mengkritik keras retorika Sofis yang cenderung fokus asal bisa memenangkan argumentasi yang kebenarannya relatif dan retorika hanya sekadar sebagai alat persuasi bukan pencari kebenaran.
Plato menganggap retorika itu “mamasak makanan enak tapi tidak sehat”, bisa menipu massa. Oleh karena itu ia ingin komunikasi yang berdasarkan pada kebenaran (truth).
Aristotle mencoba mengambil jalan tengah di antara keduanya dengan mengakui pentingnya persuasi (realitas sosial), namun tetap menekankan rasionalitas dan etika.
Aristotle kemudian merumuskan tiga mode persuasi logos, pathos, dan ethos. Ini adalah pertama kalinya persuasi dijelaskan secara sistematis bukan sekadar teknis praktis.
Ketika diterapkan dalam dunia kerja, tiga pilar ini sangat-sangat relevan. Berikut penjelasannya:
1. Logos (logika dan data)
Ini adalah kemampuan meyakinkan orang lewat argumen rasional, data, dan struktur berpikir yang jelas, pendekatan yang masuk akal dan terukur.
Pilar ini bisa diterapkan dalam dunia kerja ketika:
- Presentasi ke atasan
- Gunakan data: KPI, laporan, tren.
- Contoh: “Jika kita alihkan 20% budget ke digital, potensi lead naik 35% berdasarkan data Q1–Q2.”
- Pengambilan keputusan tim
- Bandingkan opsi dengan parameter jelas (biaya, waktu, risiko).
- Contoh: “Opsi A memakan biaya yang paling besar, namun waktu dan risiko bisa direduksi secara signifikan. Sedangkan Opsi B low budget namun memakain waktu dua kali lipat yang bisa berisiko tidak tercapainya target revenus di Q1.”
- Negosiasi kerja
- Gunakan angka, bukan opini seperti gaji, workload, kontribusi.
- Contoh: “Project ini hanya berkontribusi 10% dari total target revenue Q3, sementara workload bisa mencapai 50% dari total kapasitas kita.”
Orang-orang kuat di pilar logo ini umumnya berbicara secara sistematis, argumentasinya sulit dibantah, dan minim bias emosional. Hal yang bagus, namun ketika berlebihan maka ia akan terlihat “dingin” dan kurang mempertimbangkan faktor manusia.
Baca Juga: 6 Cara Sistematis untuk Memahami Audiens Agar Komunikasi Kamu Menjadi Efektif
2. Pathos (emosi dan empati)
Ini adalah kemampuan mempengaruhi lewat emosi, empati, dan koneksi manusiawi, sifatnya menyentuh dan menggerakkan.
Pilar ini bisa diterapkan dalam dunia kerja untuk: