kubikel

Orang yang Baca Review Berulangkali Sebelum Membeli Barang Bukan Berarti Kelamaan Mikir

Kamis, 18 Juni 2026 | 21:59 WIB
Ilustrasi: Sebelum membeli barang, kita terbiasa membaca review-nya lebih dulu. (Unsplash/Yunus Tug)

PejuangKantoran.com - Kamu termasuk orang yang mau beli barang pertimbangannya lama banget? Misalnya, mau beli headphone, coffee maker, atau bahkan cuma skincare, tapi butuh waktu lama buat membaca review-nya?

Kadang, kamu nggak cukup kalau hanya baca review dari user di e-commerce, tapi juga dari Google, bahkan sekarang bela-belain minta pendapat warga Threads. Proses ini bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Sekilas, perilaku ini terkesan pelit, atau jadinya ya, kelamaan mikir. Keburu stoknya habis, nggak sih? Tapi secara psikologis, ada alasan mendalam mengapa otak kita melakukan itu.

Baca Juga: Ditunjuk Jadi Country General Manager Microsoft Indonesia, Gunawan Susanto Bukan Orang Baru di Teknologi

Katanya sih, ini bukan soal bingung memutuskan atau sayang uang, melainkan pencarian rasa aman secara emosional sebelum mengambil keputusan.

Salah satu pemicunya adalah Loss Aversion Theory alias teori ogah rugi yang digagas psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Teori ini bilang bahwa manusia itu lebih sering merasa sedih akibat kehilangan daripada senang ketika mendapat sesuatu.

Jadi, bakal lebih nyesel kalau salah beli barang daripada puas saat berhasil beli barang yang bagus. Duit hilang karena beli barang jelek itu bikin kita merasa rugi secara emosional, sehingga otak otomatis mengumpulkan informasi sebanyak mungkin demi menghindari penyesalan di kemudian hari.

Soal membaca review ini pun unik. Kita sering kali lebih fokus pada satu ulasan negatif daripada puluhan ulasan positif. Ini disebut Negativity Bias. Otak manusia secara alami lebih peka terhadap informasi negatif sebagai bentuk bertahan hidup dari ancaman.

Bayangkan ketika kamu sedang mencari earbuds nirkabel. Setelah membaca puluhan testimoni bagus, tiba-tiba ada satu ulasan negatif bintang satu yang bilang, "Mati total setelah tiga bulan."

Satu kalimat itu seketika langsung jadi penentu keputusan untuk membatalkan pembelian, dan mengalahkan semua ulasan positif lainnya. Di sini, otak menganggapnya sebagai lampu kuning yang wajib diwaspadai.

Baca Juga: Jangan Ngarepin Jumpscare! 'Cerita Lila' bakal Lebih Fokus pada Unsur Drama yang Intens

Ada pun kebiasaan membaca review dari berbagai sumber, itu terjadi karena adanya Information Verification Behavior (Perilaku Verifikasi Informasi). Konsumen zaman sekarang sudah nggak percaya pada satu sumber saja.

Kita menganggap tiap platform punya kelebihan sendiri-sendiri. Ulasan e-commerce untuk performa produk, YouTube untuk melihat demo produk, sedangkan media sosial untuk melihat kecocokannya dengan gaya hidup. Kita tidak sekadar belanja, tapi juga mengumpulkan bukti.

Banyaknya pilihan di era modern ini juga sering memicu Decision Paralysis atau kelumpuhan keputusan. Berdasarkan teori Paradox of Choice dari psikolog Barry Schwartz, terlalu banyak opsi justru bikin kita makin stres dan menurunkan kepuasan.

Bukannya makin yakin, makin banyak informasi justru bikin bingung sampai akhirnya kita malah nggak jadi beli!

Halaman:

Tags

Terkini