PejuangKantoran.com - Di masa ketika orang masih suka membaca buku, kita sepertinya sudah sering berhenti membaca buku yang nggak kita nikmati. Bukunya langsung ditaruh di rak begitu saja, atau langsung diberikan ke orang lain. Padahal, masih ada 140 halaman yang belum dibaca.
Buat orang di usia 20-an, kebiasaan ini memberi kesan kurang gigih. Tapi buat yang sering mengalaminya sendiri, rasanya lebih mirip hitung-hitungan.
Penulis buku-buku psikologi Peter Hollins bilang, finish what you start, atau selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Kebanyakan orang menerima mindset tersebut di masa dewasa awal.
Baca Juga: Setelah 6 Tahun di Tanah Air, Kapten Indonesia All Stars Ezra Walian Akhirnya Jajal Rumput GBK
Karena kita merasa masih muda, memaksakan diri untuk membaca novel yang jelek rasanya nggak rugi-rugi amat. Tetapi ada titik di mana itu berubah, bukan karena jadi sinis, melainkan karena mulai menghitung ulang sisa waktu yang ada.
Buku bukan inti masalahnya
Banyak orang tahu di halaman berapa persisnya mereka berhenti membaca. Mungkin mereka masih memaksakan lanjut beberapa puluh halaman lagi, baru setelah itu benar-benar berhenti.
Dalam kondisi ini, yang berubah bukan soal daya konsentrasi, melainkan cara memikirkan sunk cost alias biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak bisa dikembalikan lagi.
Orang cenderung melanjutkan sesuatu yang sudah jelas merugikan. Rasa sayang kalau sesuatu itu dibuang akan terasa lebih berat dibandingkan kalau kerugiannya terus berjalan. Makin besar usaha yang sudah dikeluarkan di awal, makin susah untuk berhenti.
Baca Juga: Jutaan Buku Dihancurkan setelah Digunakan Perusahaan Melatih AI, Penulis Buku Gugat Rame-rame
Ada perubahan menarik pada pola pikir sunk cost ini saat orang semakin tua. Perhitungannya jadi lebih cepat. Menonton film jelek selama dua jam sekarang tidak bisa diabaikan begitu aja.
Selama ini kita dibesarkan untuk percaya bahwa mampu bertahan itu tanda kekuatan. Tetapi mindset itu dibuat untuk versi diri kita yang masih punya banyak waktu tersisa. Begitu waktu jadi makin terbatas, prinsip tersebut mulai nggak relevan lagi.
Selain itu, ada beda antara melakukan sesuatu karena memang mau dan karena harus. Itu disebut motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik, artinya motivasi dari dalam diri kita sendiri. Sedangkan motivasi ekstrinsik membutuhkan imbalan jika kita berhasil melakukannya.
Memaksakan diri untuk menuntaskan buku yang nggak dinikmati hanya supaya bisa bilang sudah membaca sampai habis, itu contoh paling murni dari motivasi ekstrinsik.