4. Asah soft skills dan sisi manusiawi
Meskipun keahlian teknis seperti penggunaan AI sangat dicari, soft skills seperti mudah beradaptasi, perhatian terhadap detail, dan kepemimpinan, tetap tidak bisa digantikan.
Salah satu cara mengasahnya adalah dengan mengamati cara berkomunikasi para profesional yang kamu kagumi, lalu menerapkannya dalam gaya berinteraksi sehari-hari.
5. Buat jadwal istirahat dan batasi diri
Wajar saja kalau kamu malah jadi burnout setelah selama sembilan jam dalam sehari berburu lowongan kerja. Buat batasan yang masuk akal dan luangkan waktu untuk break setiap beberapa jam. Kamu bisa menyisihkan satu hari dalam seminggu khusus untuk mempelajari hal baru atau sekadar beristirahat dari aktivitas melamar kerja.
Baca Juga: Cek Pusat Konsentrasi Massa saat Demo 27 Agustus Nanti, Berikut Jalur Alternatif yang Bisa Ditempuh
6. Ubah POV kamu soal kesuksesan
Pekerjaan pertama atau karier selanjutnya mungkin tidak selalu sesuai dengan gambaran ideal yang ada di kepalamu. Proyek kontrak tiga bulan atau posisi paruh waktu sekalipun bisa menjadi batu loncatan untuk menambah keterampilan dan koneksi baru.
Kalau ada kesempatan wawancara kerja untuk posisi yang kurang kamu minati, tetap ambil kesempatan itu. Anggap saja sebagai ajang latihan untuk mengasah cara bicaramu dan memperluas relasi profesional. Kalau sudah begini, nggak perlu lagi doomjobbing!