kubikel

Dampak Buruk Quiet Promotion, Ketika Tugas Tambahan Disebut sebagai "Kesempatan untuk Belajar"

Senin, 19 Juni 2023 | 11:00 WIB
Ilustrasi: Quiet promotion sering disebut kesempatan belajar, padahal kamu hanya mendapat tugas-tugas tambahan saja. (Pexels/Yan Krukau)

Agar kamu tidak “tertipu”, tanyakan pada diri sendiri apakah tugas yang diberikan ini peluang yang benar-benar kamu inginkan dalam karir. Atau, itu hanya limpahan pekerjaan yang tidak ingin dilakukan orang lain dan kamu yang harus melakukannya.

“Bagi saya dari situlah datangnya quiet quitting. Kami frustrasi dengan seberapa banyak pekerjaan yang dilakukan yang tampaknya tidak ada yang peduli,” kata Valerie Gordon, pelatih karir dan komunikasi.

Ia mengatakan bahwa setiap kali kamu diminta melakukan sejumlah tugas baru, kamu harus menegosiasikan ulang kompensasinya. Jika tidak bisa mengubah gaji, mintalah tunjangan lain, seperti lebih banyak waktu untuk bekerja dari rumah.

Perusahaan juga bisa merugi

Jika perusahaan memiliki karyawan yang melakukan pekerjaan yang bukan menjadi tanggung jawabnya tanpa imbalan apa pun, jangan heran ketika karyawan tersebut merasa muak dan memutuskan berhenti.

Bonnie bercerita bahwa ia pernah memiliki bawahan langsung yang tertarik dengan manajemen. Karyawan itu lalu diberi kesempatan untuk melakukan pekerjaan karyawan lain yang sedang cuti melahirkan.

Tak ingin bersikap tidak adil, Bonnie menyarankan kepada perusahaan untuk memberikan kompensasi dan menyebut ini sebagai peluang pengembangan karir karyawan tersebut.

Namun, perusahaan tidak melakukannya.

Baca Juga: Siap-siap Ujian, Ini Situs Latihan Tes BUMN

“Saya yang tidak memiliki kuasa atas hal tersebut, tidak terkejut ketika karyawan tersebut keluar beberapa bulan kemudian, dan mendapat jabatan penuh waktu di perusahaan lain,” katanya.

Pada akhirnya, quiet promotion adalah kerugian bagi perusahaan dan karyawan.
Perusahaan dapat kehilangan karyawan berkinerja tinggi karena ada perusahaan lain yang akan memberikan promosi nyata kepada karyawan tersebut. 

Padahal, jika karyawan benar-benar dipromosikan ke jabatan yang berbeda atau diberikan pelatihan dan orientasi sesungguhnya, perusahaan dan karyawan bisa melangkah bersama meraih kesuksesan. (Elga Windasari)

Halaman:

Tags

Terkini