PejuangKantoran.com - Sebagian orang menggunakan media sosial untuk berbagi momen dan kegembiraan dengan dunia. Namun, tidak sedikit kaum milenial yang merasa berkewajiban menggunakan media sosial untuk memamerkan kekayaan dan gaya hidup.
Hal ini wajar dilakukan jika mereka memang kaya dan berpenghasilan cukup. Namun kenyataannya, banyak yang melakukannya hanya sekadar berpura-pura kaya atau fake rich.
Mereka mungkin memang memiliki gaji tinggi, tetapi pengeluaran yang melebihi gaji hanya untuk terlihat lebih kaya dari yang sebenarnya.
Baca Juga: 3 Cara Belajar Keterampilan AI untuk Meningkatkan Wawasan dan Peluang Kerja yang Baru
Mengapa milenial suka berpura-pura kaya?
Menurut teori Levinson, kelompok usia milenial sangat membutuhkan rasa pencapaian selama fase awal masa dewasa. Jadi, tentu saja, mereka juga ingin melihat dirinya mapan pada usia tertentu.
Berikut beberapa alasan milenial suka pura-pura kaya, khususnya di media sosial.
1. Terbiasa hidup melampaui kemampuan
Artinya, mereka hidup dengan membelanjakan lebih banyak daripada penghasilan diri sendiri atau keluarganya, alias besar pasak daripada tiang.
Menurut laporan Bloomberg pada 2022, lebih dari 34 juta warga Amerika menghabiskan uang di luar kemampuannya karena kurangnya rencana keuangan.
Alhasil, mereka tidak bisa mengelola pendapatan, pengeluaran, dan kewajiban keuangan secara efektif.
Orang yang membelanjakan lebih banyak uang daripada yang dimiliki kemungkinan akan bergantung pada kredit atau pinjaman untuk membiayai gaya hidupnya.
2. Terobsesi dengan media sosial
Dengan maraknya media sosial seperti Instagram dan TikTok, kaum milenial dibombardir dengan gambar dan video orang-orang yang (tampaknya) hidup mewah dengan memamerkan mobil mahal, pakaian, dan liburan eksotis.
Eksposur terus-menerus terhadap gaya hidup sempurna ini menciptakan harapan dan tekanan yang tidak realistis pada kaum muda untuk memproyeksikan citra dirinya kepada dunia.