Untuk daftar kelemahan, pastikan kamu memasukkan poin:
● Kemungkinan ketidakseimbangan dalam arus kas
● Kurangnya pengalaman atau aset
● Kesenjangan dalam kemampuan
● Networking yang masih kecil
Sementara untuk ancaman, kamu harus melihatnya dalam lingkungan makro, termasuk:
● Ekonomi
● Bisnis musiman
● Perubahan industri
● Permintaan pasar
● Lanskap pesaing
Sekarang, setelah kamu sudah menghadapi hambatan, beralihlah ke hal positif yang akan mendorong bisnismu maju, yaitu:
● Mengapa kamu membangun bisnis ini?
● Apa kekuatan produk dan pengalaman dirimu yang akan ditawarkan ke pasar?
● Apa pembeda bisnismu dengan bisnis yang lain?
Baca Juga: 9 Tanda Kamu Suka Mengintimidasi Orang Lain Tanpa Kamu Sadari, dan Itu Wajar Saja!
Fokuslah pada apa yang kamu miliki, pengalaman dan latar belakangmu, cadangan keuangan apa pun yang mungkin dimiliki atau dapat diakses, networking, dan keseluruhan proposisi nilai.
Uraikan peluang yang dimiliki bisnismu di pasar, seperti inovasi dan kolaborasi baru untuk memanfaatkan kondisi pasar atau perubahan industri.
Dengan hal-hal baik yang kamu tulis, lihat lagi kelemahan dan ancaman, lalu lihat bagaimana kamu dapat menguranginya dengan kekuatan dan memanfaatkan peluang baru.
Hal ini akan memastikan business plan yang disusun menunjukkan bahwa kamu sadar dan siap menghadapi yang (berpotensi) akan datang.
2. Sertakan analisis persaingan
Business plan yang baik menunjukkan bahwa kamu siap menjalani bisnis ini. Itu berarti kamu bisa menjelaskan dengan jelas siapa dan apa yang dilakukan perusahaanmu dan mengapa kamu memimpinnya.
Kamu juga harus menyertakan analisis persaingan—meliputi tren industri, ukuran pasar, dan peran apa yang akan dimainkan bisnismu—dan siapa target pelangganmu.
Pemahaman tentang industri ini berfungsi sebagai studi kelayakan untuk kesuksesan bisnis.