Daripada berpikir yang tidak-tidak, berusahalah untuk memahami kalender internal perusahaan dan ikuti terus perkembangan kinerjanya.
“Setiap perusahaan memiliki situasi keuangan yang berbeda, dan biasanya memiliki anggaran yang dialokasikan untuk kenaikan gaji tahunan yang kemudian dibagi berdasarkan departemen,” jelasnya.
Jadi katakanlah kamu tahu perusahaan memiliki kinerja yang hebat pada kuartal kedua, maka kuartal ketiga bisa menjadi waktu yang tepat untuk minta kenaikan gaji.
Begitu juga jika kamu tahu di kuartal terakhir keuntungan perusahaan tidak begitu bagus, maka kamu mungkin perlu menunggu untuk membicarakannya.
Selain itu, ingatlah bahwa banyak perusahaan bahkan tidak mengetahui laba akhir tahun mereka hingga tahun berikutnya. Jadi, kamu mungkin perlu memberi mereka waktu sebelum menegosiasikan kenaikan gaji atau bonus.
Baca Juga: Jabatan Naik tapi Gaji Nggak Ikut Naik, Sebaiknya Diterima atau Ditolak?
3. Tidak menuliskannya di atas kertas
Ingat: Apa yang sangat penting bagimu dapat dengan mudah dilupakan oleh atasan.
“Dengan demikian, bonus yang dijanjikan berdasarkan keuntungan, harus tertulis dengan baik, termasuk waktu pemberiannya,” kata Celia.
Misalnya, jika perusahaan mencapai keuntungan sebesar X, maka kamu akan menerima bonus sebesar Y persen. Ini harus tertulis dengan jelas.
Kamu bisa meminta manajer untuk menuliskannya, lalu bisa mengingatkannya kembali jika kamu sudah mencapai target yang ditentukan tetapi bonus belum diberikan. (Elga Windasari)