PejuangKantoran.com - Kamu ingin kenaikan gaji. Atasan menyetujuinya. Seharusnya semua berjalan lancar, bukan? Sayangnya, keinginan tidak selalu berakhir dengan apa yang kita mau.
Seperti kebanyakan urusan dengan divisi keuangan, ada banyak hal yang bisa menjadi lebih rumit. Termasuk saat bernegosiasi untuk minta kenaikan gaji.
Celia Balson, mantan eksekutif SDM dan pendiri serta CEO Work Friendly, memberitahu tiga kesalahan saat minta kenaikan gaji dengan perusahaan. Catat dan hindari untuk dilakukan, ya.
Baca Juga: Selain Gaji, Ini 8 Hal yang Sebaiknya Dinegosiasikan saat Wawancara Kerja (Nggak Usah Segan!)
1. Tidak paham siklus kenaikan dan kisaran gaji perusahaan
Celia mengatakan bahwa hampir semua perusahaan memiliki filosofi pembayaran gaji karyawan, yang meliputi kisaran gaji yang akan diberikan untuk menciptakan keadilan.
Sebagian besar divisi SDM sudah mengetahui informasi ini. Jadi, mereka sudah tahu seberapa sering gaji dievaluasi, atau apakah pekerjaan seorang karyawan memerlukan kompensasi atau tidak.
Misalnya, mungkin perusahaan tempatmu bekerja memiliki jadwal kenaikan gaji tahunan yang menyertai masa penilaian karyawan —yang biasanya terjadi pada Februari.
Namun, ada juga perusahaan yang melakukan peninjauan setiap tiga bulan, terutama yang berkaitan dengan sasaran dan bonus triwulanan.
Setiap perusahaan juga memiliki comp bands atau compensation band atau "Pay band", yang mengacu pada rentang gaji berdasarkan peran dan level karyawan. Rentang gaji ini biasanya dipertahankan oleh perusahaan agar tetap konsisten.
Mengetahui informasi ini akan membantumu memahami kapan kamu berhak melakukan pembicaraan mengenai kenaikan gaji, dan berapa jumlah yang wajar untuk diminta.
Baca Juga: 5 Cara Mengatur Keuangan Agar Gaji Cukup buat Sebulan (dan Nggak Malah Amblas Sebelum Akhir Bulan)
2. Menganggap diri “ditipu” oleh perusahaan
Celia berpendapat bahwa sebagian besar perusahaan akan memberikan kenaikan penghasilan sesuai dengan peningkatan biaya hidup.
Jika kamu tidak mendapatkan hal tersebut, jangan menganggap itu karena kamu melakukan kesalahan, atau bekerja untuk perusahaan yang tidak peduli pada kesejahteraan karyawan.
Artikel Terkait
5 Tipe Orang yang Lebih Baik Menyewa Rumah daripada Membeli Cash atau Mencicilnya
Jika Istri Sudah Tak Bekerja, Lebih Baik Hapus NPWP dan Gabung dengan NPWP Suami
Sinéad O'Connor Meninggal Dunia di Usia 56, Akhiri Perjuangan Panjang dengan Kesehatan Mental
9 Cara Membangun Kepercayaan bersama Tim Jika Kamu Jadi Manager Baru
5 Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura di bulan Muharram, Bisa Hapus Dosa Selama Setahun!
Google Asia Pacific Menilai Perpres tentang Media Massa Mengancam Masa Depan Media di Indonesia