PejuangKantoran.com - Ketika mengalami gangguan kesehatan yang cukup berat, tentunya kita berusaha menemukan dokter terbaik. Apakah dokter itu pria atau wanita, terkenal atau tidak, tampaknya tidak menjadi fokus utama dalam memilih dokter.
Dalam praktiknya, tim bedah rumah sakit yang didukung lebih banyak dokter wanita ternyata bisa meningkatkan hasil pengobatan pasien, menurunkan risiko komplikasi serius, dan pada akhirnya mengurangi biaya perawatan kesehatan.
Menurut studi dari University of Toronto, keberagaman sangat dibutuhkan dalam bisnis, keuangan, teknologi, pendidikan, dan hukum, tidak hanya untuk kesetaraan namun juga untuk hasil yang diinginkan.
Baca Juga: Karyawan Pria Bisa Dukung Rekan Wanita agar Lebih Maju di Tempat Kerja, Begini Caranya!
Kesimpulan itu didapat setelah para peneliti menganalisis lebih dari 700.000 operasi selama satu dekade, dan mengungkapkan bahwa tim bedah rumah sakit yang punya lebih banyak dokter wanita memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.
“Perawatan di rumah sakit dengan keragaman jenis kelamin tim anestesi-bedah yang lebih besar dikaitkan dengan hasil pasca operasi yang lebih baik,” para peneliti menyimpulkan.
Penurunan morbiditas
Pelajaran utama dari praktik klinis dan kebijakan kesehatan adalah bahwa meningkatkan keberagaman jenis kelamin di tim ruang operasi bukan persoalan keterwakilan atau keadilan sosial, namun merupakan bagian penting dari optimalisasi kinerja.
Oleh karena itu, institusi kesehatan perlu menumbuhkan keragaman jenis kelamin di tim ruang operasi untuk mengurangi angka pasien yang mengalami kesakitan, sehingga dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mengurangi biaya.
Dalam studi yang dipublikasikan di British Journal of Surgery itu, para peneliti menganalisis 709.899 operasi elektif yang dilakukan di 88 rumah sakit di Ontario, Kanada, antara tahun 2009 dan 2019.
Dari operasi tersebut, morbiditas besar dalam 90 hari (komplikasi serius dalam tiga bulan setelah operasi) terjadi pada 14,4% kasus. Proporsi rata-rata wanita ahli anestesi dan ahli bedah di rumah sakit per tahun adalah 28%.
Baca Juga: Dewan Pers dan Komunitas Pers Tolak Tegas Draf RUU Penyiaran dari DPR: Menggembosi Kebebasan Pers
Secara keseluruhan, ahli bedah wanita melakukan 47.874 (6,7%) operasi. Ahli anestesi wanita merawat pasien di 192.144 (27%) operasi.
Rumah sakit dengan tim yang terdiri atas lebih dari 35% ahli bedah wanita dan ahli anestesi memiliki hasil pasca operasi yang lebih baik, demikian temuan studi tersebut.
Operasi di rumah sakit tersebut menghasilkan penurunan kemungkinan morbiditas besar pasien sebesar 3% dalam 90 hari pasca operasi.
Artikel Terkait
Alasan Kelas Rawat Inap 1, 2, 3 BPJS Kesehatan Dihapus dan Digantikan Layanan KRIS
Kriteria Layanan Kelas Rawat Inap Standar atau KRIS yang Harus Dipenuhi RS Mitra BPJS Kesehatan
Ditanya Soal Gaya Kepemimpinan, Prabowo Janji Akan Buat Rakyat Indonesia Sejahtera
Band Metal Berhijab "Voice of Baceprot" Masuk 10 Besar Forbes 30 Under 30 Asia Tahun 2024
Sedihnya Harus Long Distance Marriage Demi Pekerjaan, Ini Cara Pasutri LDM Atur Keuangan Biar Nggak Boncos
10 Negara dengan Militer Paling Kuat di Asia, Indonesia di Urutan Berapa?
Bukan Hal Baru, tapi Mengapa Perusahaan Memberi Kenaikan Jabatan tanpa Kenaikan Gaji?