PejuangKantoran.com - Bagi anak muda 'jompo,' China memiliki sebuah panti jompo khusus anak muda.
Namun ini bukan panti jompo biasa, di sini tempat anak muda China yang lelah dengan pekerjaannya.
Berbeda dengan namanya, panti jompo bukanlah fasilitas perawatan lansia. Menurut Cui Kai, salah satu dari enam manajer di Guanye, kata “pensiun” digunakan secara simbolis, untuk “menunjukkan pencarian kedamaian batin dan gaya hidup yang tenang, melampaui batasan usia”.
Baca Juga: Kapan Paspor Baru RI Bisa Mulai Dipakai untuk Semua Orang Indonesia?
“Penafsiran ulang yang kreatif terhadap masa pensiun tradisional mencerminkan pergeseran budaya yang lebih luas ke arah menghargai kesejahteraan pribadi dan kesehatan mental,” katanya, seraya menambahkan bahwa hal ini untuk menawarkan perlindungan bagi generasi muda dari “kehidupan yang penuh tekanan”.
Didirikan pada tahun 2017, Guanye menawarkan lebih dari 240 tempat tidur di tiga gedung asrama dan 10 halaman. Harga mulai dari 138 yuan (US$19) untuk menginap sehari, dan hingga 3.599 yuan untuk sebulan.
“Saya bosan dengan lingkungan kompetitif di kota. Setelah merasakan (desa pensiunan remaja ini), saya merasa cukup nyaman, dan rasanya seperti kembali ke kampung halaman,” ujar Xiaofei, pengembara digital berusia 28 tahun.
Baca Juga: Mengapa Pegawai Kantoran Masih Harus Ikut Upacara Bendera Saat Kemerdekaan Indonesia?
“Lingkungan juga membuat saya terkesan. Ada pegunungan dan sungai, dengan suasana pedesaan yang kuat, dan saya sangat menikmati alam.”
Guanye adalah contoh dari “rumah jompo remaja” atau “qing nian yang lao yuan” seperti yang dijelaskan dalam laporan media Tiongkok.
Seperti halnya Xiaofei, semakin banyak generasi muda yang mencari tempat-tempat seperti itu, sebuah tren yang menurut para analis mencerminkan semakin besarnya kekecewaan generasi muda, ketika mereka menghadapi perekonomian Tiongkok yang terpuruk, pasar kerja yang sangat kompetitif , dan meningkatnya biaya hidup.
“Saya pikir (munculnya panti jompo kaum muda) merupakan gejala dari penyakit yang lebih besar, yaitu kelesuan ekonomi dan kelesuan pasar kerja,” kata Zak Dychtwald, pendiri lembaga think tank dan perusahaan konsultan Young China Group.
“(Kami memiliki) generasi muda yang mengintegrasikan realitas ekonomi baru ke dalam pandangan dunia mereka.”
Baca Juga: Datang Ke Kantor Lebih Awal dan Pulang Paling Akhir Ternyata Nggak Bakal Bikin Kamu Maju
Artikel Terkait
Mantan CEO YouTube Susan Wojcicki Meninggal di Usia 56, Dikenang sebagai Tokoh Perubahan Google
Pembangunan IKN akan Lama dan Berat, Prabowo Optimistis Fungsi IKN Sudah Terasa 5 Tahun ke Depan
Shopee Pindahkan Karyawan Satu Departemen Ke Solo dan Yogyakarta, Berapa Penghematannya?
Siapa Bilang Alasan Utama Karyawan Resign karena Ingin Melepaskan Diri dari Manajernya?
CEO Starbucks Laxman Narasimhan Dipecat Lantaran Enggan Bekerja Lewat Jam 6 Sore?
Tim Paskibraka Ukir Sejarah Baru sebagai Pengibar Sang Merah Putih Pertama Di Ibu Kota Nusantara
Mengapa Pegawai Kantoran Masih Harus Ikut Upacara Bendera Saat Kemerdekaan Indonesia?
Indonesia Resmi Punya Paspor Baru, Dari Hijau Jadi Merah Putih
Penghentian PPDS Anestesi, Menkes Budi: Agar Semua Orang Bisa Bicara tanpa Takut Diintimidasi
Kapan Paspor Baru RI Bisa Mulai Dipakai untuk Semua Orang Indonesia?