Pantas Non Performing Loan-nya Rendah, Ternyata Gini Strategi BRI Turunkan Rasio Kredit Macet

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 12 November 2024 | 21:26 WIB
Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto mengatakan, pengetatan seleksi kredit bagi debitur-debitur baru dilakukan melalui kriteria yang telah ditentukan.  (BRI)
Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto mengatakan, pengetatan seleksi kredit bagi debitur-debitur baru dilakukan melalui kriteria yang telah ditentukan. (BRI)

PejuangKantoran.comNPL atau Non Performing Loan adalah kondisi di mana individu atau perusahaan tidak mampu membayar utang pinjaman sesuai perjanjian dengan bank. Dari situlah muncul istilah kredit bermasalah atau kredit macet.

Rasio NPL merupakan indikator sehat atau tidaknya sebuah bank. Bank Indonesia menetapkan bahwa bank dengan rasio NPL di bawah 5% bisa dibilang sebagai bank yang sehat.

Berpegang pada ketetapan dari Bank Indonesia tersebut, maka bisa dikatakan bahwa BRI mampu mengelola kualitas asetnya dengan baik.

Baca Juga: Dengan Fitur Multi-Share Class dari Bank Kustodian BRI, Nasabah Lebih Fleksibel Mengelola Investasi

Tercatat, rasio NPL BRI pada triwulan III-2024 sebesar 2,90%. Artinya, rasio tersebut terus membaik jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya yang tercatat 3,07%.

Adapun BRI berhasil mencatat penyaluran kredit sebesar Rp1.353,36 triliun hingga akhir Triwulan III 2024, atau tumbuh 8,21% secara tahunan atau year on year (yoy).

Rasio Non Performing Loan BRI yang membaik didukung oleh beberapa strategi yang dilakukan oleh perseroan dalam mengelola kredit, baik dari front-end, mid-end, hingga back-end.

“Baik di front-end pada saat kita underwrite kredit-kredit yang baru kemudian mensupervisi kredit-kredit yang ada di dalam buku kita,” ujar Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto, saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (30/10/2024) lalu.

“Lebih khusus lagi sejak awal triwulan II-2024 memang kami memperketat di front-end-nya,” tambahnya.

Pengetatan seleksi kredit bagi debitur-debitur baru tersebut melalui kriteria yang telah ditentukan, sehingga debitur yang mengajukan kredit akan tersaring dan NPL BRI mengalami penurunan.

Baca Juga: Skor ESG Naik, BRI Tembus Peringkat 5 Persen Teratas Di Sektor Perbankan Global

“Kita tahu di kuartal 1 tahun ini kita sempat ada kenaikan di NPL ratio. Tetapi dengan berbagai strategi yang kita lakukan, tidak hanya NPL sebenarnya yang turun, termasuk juga di LAR-nya juga kita mengalami penurunan,” jelas Agus.

Yang dimaksud LAR adalah Loan at Risk, di mana BRI juga berhasil mencatat rasio LAR yang lebih baik. Pada akhir Triwulan III 2023 rasionya 13,80%, lalu menjadi 11,66% pada akhir Triwulan III 2024.

Early warning system

Penurunan rasio NPL dan LAR ini didukung oleh penerapan strategi pengelolaan manajemen risiko yang disiplin di seluruh lini bisnis, demikian menurut Direktur Utama BRI Sunarso dalam kesempatan yang sama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X