BRI Sukses Turunkan Angka Kredit Macet, Ini Strateginya!

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Rabu, 13 November 2024 | 10:38 WIB
Kredit Macet Turun, Dirut BRI Ungkap Strategi Tingkatkan Kualitas Aset (BRI  )
Kredit Macet Turun, Dirut BRI Ungkap Strategi Tingkatkan Kualitas Aset (BRI )

PejuangKantoran.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil menurunkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) menjadi 2,90% pada September 2024. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat di angka 3,07%.

Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan BRI dalam menjaga kualitas aset meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Direktur Utama BRI, Sunarso, mengungkapkan bahwa penurunan NPL ini tidak hanya mencerminkan kelancaran pembayaran debitur, tetapi juga dampak dari berbagai strategi yang diterapkan oleh bank pelat merah tersebut untuk menjaga kualitas portofolio kredit.

Baca Juga: Bestie-an di Kantor Banyak Manfaatnya, tapi Tetapkan Batasan biar Nggak Jadi Konflik

Strategi BRI untuk Menjaga Kualitas Kredit

Sunarso menjelaskan bahwa penurunan NPL dan downgrade portofolio kredit BRI dapat dicapai melalui pendekatan yang terintegrasi di tiga lini bisnis utama: front end, mid end, dan back end.

1. Front End : Di tahap awal pemasaran, BRI mengedepankan selektivitas dalam penyaluran kredit dengan memperketat kriteria risk acceptance dan underwriting. Hal ini dilakukan agar kredit yang diberikan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan (corporate governance) yang ketat, serta mampu menjaga kualitas portofolio kredit sejak awal.

2. Mid End: Setelah kredit disalurkan, BRI terus melakukan pemantauan ketat terhadap portofolio yang ada di neraca. Dengan memperkuat monitoring dan meningkatkan kesadaran terhadap risiko (risk awareness), BRI memastikan kualitas kredit tetap terjaga. Selain itu, BRI juga secara rutin melakukan stress testing untuk mengetahui potensi gejolak yang bisa mempengaruhi kualitas portofolio kredit.

Baca Juga: Lowongan Kerja Jadi Creative Manager di Sony Music Entertainment untuk Pasar Asia Tenggara

3. Back End: Pada tahap ini, untuk kredit bermasalah yang sudah sulit diselamatkan, BRI melakukan restrukturisasi untuk memberikan kesempatan agar kredit tersebut bisa kembali lancar. Sunarso menambahkan, jika kredit yang direstrukturisasi masih belum dapat dipenuhi, BRI akan mempercepat proses recovery atau pemulihan. Dalam kasus tertentu, BRI juga tidak ragu untuk melakukan write off terhadap kredit macet yang sudah tidak memiliki harapan untuk kembali.

Menurut Sunarso, BRI telah mengembangkan model bisnis yang berbasis pada restrukturisasi dan recovery, terutama di segmen mikro. Pada tahap front end, BRI tetap agresif dalam mencari nasabah dan menyalurkan kredit, tetapi selektif dalam memilih portofolio yang sehat. Kredit yang teridentifikasi bermasalah akan diproses lebih lanjut pada tahap mid end dan back end untuk dipastikan penanganannya sesuai prosedur.

"Jika kredit sudah tidak bisa dijaga dan jatuh, maka kami lakukan restrukturisasi. Jika masih ada harapan, kami akan berusaha untuk memulihkannya. Tetapi jika tidak, kami akan melakukan write off," jelas Sunarso.

Meski kredit yang sudah dihapus buku, atau write off, BRI tetap melakukan penagihan untuk mendapatkan pendapatan dari recovery. Sunarso menekankan bahwa uang yang berhasil dipulihkan melalui penagihan ini merupakan dana yang sebelumnya telah dicadangkan oleh bank. Oleh karena itu, hasil recovery ini menjadi sumber pendapatan baru yang penting bagi bank.

Baca Juga: Mana Yang Lebih Sehat? Susu Oat, Susu Almond, Atau Susu Sapi? Cek Fakt-Faktanya!

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X