Pejuangkantoran.com – Sempat ramai beberapa waktu lalu di Reels jogja.vibes, seorang perempuan marah pada pria yang dianggapnya melakukan catcalling padanya. Insiden yang terjadi di Alun-Alun Kidul, Yogyakarta ini terjadi saat si perempuan yang memarahi pria dengan rambut panjang itu sedang akan berolah raga pagi di sana.
Si perempuan mengganggap apa yang dilakukan oleh si pria berambut panjang ini catcalling dan tidak sopan. Sementara sip pria ini menganggap apa yang dilakukannya masih dalam batasan kesopanan.
Sebenarnya, catcalling itu apa, sejauh apa bisa disebut catcalling, dan apa dampak hukumya?
Menurut laman halodoc.com, catcalling adalah bentuk pelecehan verbal dan non-verbal yang bisa berdampak pada kesehatan mental korban.
Catcalling menurut Taking Mental Health yag dikutip halodoc, adalah salah satu bentuk pelecehan di tempat umum. Bisanya berupa komentar yang bernada seksual yang tidak diinginkan oleh korban, siulan, komentar yang merendahkan, dan semacamnya.
Catcalling tidak sopan karena apa?
Catcalling dianggap tidak sopan karena itu adalah salah satu dari bentuk pelecehan seksual yang mengarah ke individu.
Tindakan ini sering diabaikan dan dinormalisasi. Padahal tindakan seperti ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman dan penderitaan besar bagi korban yang sebagian besar adalah perempuan.
Catcalling dianggap tidak sopan karena tindakan ini memenuhi alasan-alasan berikut ini:
- Perhatian yang tidak diinginkan: Catcalling adalah komentar atau isyarat yang tidak diminta yang ditujukan kepada seseorang tanpa persetujuan mereka, membuat mereka merasa diserang dan menjadi sasaran.
- Objektifikasi seksual: Dengan hanya berfokus pada penampilan fisik seseorang, catcalling merendahkan korban hanya sebagai bagian-bagian tubuh daripada mengakui kemanusiaan mereka sepenuhnya.
- Ketidakseimbangan kekuasaan: Catcalling sering kali berasal dari pelaku yang merasa berhak dan berkuasa untuk mengomentari tubuh orang lain.
- Dampak psikologis: Meskipun tampaknya tidak berbahaya, catcalling dapat menyebabkan kecemasan, ketidaknyamanan, dan perasaan tidak aman, terutama jika dialami berulang kali.
- Normalisasi pelecehan: Dengan menerima catcalling sebagai "pujian" atau bagian normal dari kehidupan publik, hal itu dapat menormalisasi budaya pelecehan seksual.
Baca Juga: Viral Pelecehan Seksual di LinkedIn untuk 'Cari Sekretaris Seksi'
Contoh Catcalling
Ada dua jenis ca calling, yaitu:
- Catcallingverbal: Pelaku memberikan siulan atau komentar tentang penampilan korban.
- Catcalling non-verbal: Pelaku menggunakan gestur fisik untuk memberikan penilaian terhadap penampilan korban.
Beberapa contoh catcalling meliputi:
Artikel Terkait
Metode TikTok Ini Bisa Meningkatkan Produktivitas dan Mental Health Kamu
Women From Rote Island: Tingginya Kasus Pelecehan Seksual di Balik Keindahan Alam Pulau Rote
Ketika Kolega Kantor Alami Masalah Mental Health, Lakukan 6 Langkah Ini Sebagai Teman Atau Atasan
Aksi Petugas PPSU Jakarta Itu Melindungi Hak Pejalan Kaki & Menjaga Pengendara Motor Dari Jeratan Hukum
Mendapatkan Pernghargaan Dari UN Women Menunjukkan BRI Peduli dengan Kesetaraan Gender & Pemberdayaan Perempuan
Marsya 'Voice Of Baceprot' Masuk Daftar '100 Perempuan Paling Berpengaruh 2024' versi BBC