Lalu solusinya apa?
Menurut Harvey, satu-satunya cara paling realistis adalah merekrut pekerja asing. Masalahnya, topik ini agak sensitif di Jepang.
“Kita sudah mulai melihat banyak pekerja asing di tempat-tempat seperti Shizuoka dan Kanagawa. Di hotel-hotel, makin banyak staf dari India, Nepal, dan negara Asia Selatan lainnya,” ceritanya.
“Sama seperti kita lihat orang Asia Selatan kerja di minimarket Jepang, sekarang mereka juga mulai muncul di front desk hotel.”
Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Minta Kenaikan Gaji agar Lebih Mungkin Dikabulkan Perusahaan?
Memang, menerima banyak pekerja asing butuh perubahan pola pikir. Tetapi jika Jepang berniat mengejar target 60 juta turis pada 2030 dan tetap menjaga reputasi sebagai negara dengan layanan superramah alias omotenashi, mereka harus mulai menerima kenyataan.
“Jika pemerintah berkeras dengan target 60 juta pengunjung, mereka harus mengakui bahwa tidak cukup orang Jepang yang bisa mengisi posisi itu. Solusinya, buka pintu buat tenaga kerja asing,” tegas Harvey.
Kita tentu tahu, sebaik apa pun teknologi, jika layanannya tidak ada “sentuhan manusia”, rasanya pasti beda. Jika situasi ini tidak segera ditangani, bisa-bisa pariwisata Jepang yang sekarang lagi di puncak, malah kepentok masalah klasik: tidak ada orang yang bekerja.
Artikel Terkait
10 Kota Terbaik Dunia untuk Pencinta Kuliner Versi TimeOut : Dari Street Food hingga Fine Dining
VOA Indonesia Berhenti Beroperasi, Patsy Widakuswara dan Jurnalis Lain Terancam Kehilangan Pekerjaan
9 Kebiasaan Sederhana yang Akan Membuat Kamu Lebih Sehat dan Jarang Sakit!
Begini Cara Menghadapi Rekan Kerja yang Kasar dan Suka Menciptakan Konflik di Tempat Kerja
Kamu Wajib Punya Keterampilan Dalam Literasi Data. Apa Manfaat Data Dalam Bisnis Saat ini?
Terampil Dalam Literasi Data Itu Penting. Berikut Ini Cara Meningkatkan Keterampilannya!
Makan Nasi Putih Berisiko Diabetes Tipe 2? Tenang, Ada 4 Jenis Beras Lain yang Lebih Sehat!