Pekerja Indonesia Paling Takut Pekerjaannya Digantikan AI, Pegawai Jepang Justru Paling Tidak Khawatir

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 11:08 WIB
Ilustrasi: Survei "Global Public Opinion on Artificial Intelligence" menjawab polemik tentang dampak AI tentang masa depan pekerjaan. (Freepik)
Ilustrasi: Survei "Global Public Opinion on Artificial Intelligence" menjawab polemik tentang dampak AI tentang masa depan pekerjaan. (Freepik)

PejuangKantoran.com – Siapa di antara kamu yang tidak pernah absen menggunakan bantuan AI dalam melakukan tugas sehari-hari? Bagaimana kamu menghadapi persaingan di dunia kerja, bukan hanya dengan sesama pencari kerja tetapi juga dengan AI?

Survei terbaru berjudul "Global Public Opinion on Artificial Intelligence (GPO-AI)" yang melibatkan 1.000 responden dari 21 negara pada tahun 2024 menjawab polemik mengenai dampak AI terhadap masa depan pekerjaan.

Studi yang disusun oleh Schwartz Reisman Institute for Technology and Society (SRI) bersama Policy, Elections, and Representation Lab (PEARL) di Munk School of Global Affairs & Public Policy, University of Toronto, Kanada, ini mengungkap gambaran yang cukup mengejutkan.

Baca Juga: Rekaman Pidato Sri Mulyani yang Menyebut Guru sebagai Beban Negara Ternyata Hasil Deepfake!

AI memang diyakini mampu menjadi alat bantu yang meringankan beban manusia. Namun di sisi lain, muncul kecemasan bahwa teknologi ini justru akan menggantikan tenaga kerja manusia dalam skala besar. Jadi, ada perbedaan besar dalam cara masyarakat dunia menilai risiko otomatisasi.

Studi tersebut bukan hanya menyinggung soal kehilangan pekerjaan, tapi juga isu deepfake dan regulasi negara terkait AI.

“Responden memandang anak-anak mereka dan generasi mendatang sebagai kelompok yang paling rentan terhadap kehilangan pekerjaan akibat mesin, lebih daripada diri mereka sendiri,” demikian pernyataan dalam studi GPO-AI yang dikutip pada Rabu, 20 Agustus 2025.

Kekhawatiran bahwa pekerjaan mereka atau orang-orang terdekat mereka digantikan mesin dalam 10 tahun ke depan dirasakan oleh sekitar separuh responden. Kekhawatiran itu bahkan lebih besar jika menyangkut masa depan generasi berikutnya.

Survei GPO-AI juga menunjukkan perbedaan tajam antara negara maju dan negara berkembang. Di negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat, kewaspadaan terhadap dampak AI jauh lebih tinggi dibandingkan di negara maju.

Di antara kelompok negara berkembang tersebut, Indonesia masuk dalam jajaran negara yang merasa paling cemas. Sebanyak 76% responden asal Indonesia yakin pekerjaan mereka berisiko digantikan komputer atau mesin dalam satu dekade ke depan.

Baca Juga: Film Pangku dan Mothernet Siap Berkompetisi di Program Vision di Busan International Film Festival

“Indonesia, bersama India dan Pakistan, termasuk kelompok negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi bahwa AI akan menggantikan pekerjaan mereka,” tulis laporan tersebut.

Jika Indonesia menunjukkan angka 76%, jumlah responden di India yang merasakan kekhawatiran itu 75%, dan Pakistan 72%. Ketiga negara ini merasakan adopsi teknologi yang melaju cepat, namun menilai perlindungan bagi pekerja masih terbatas.

Sementara itu, para pekerja di negara maju justru terlihat lebih tenang menghadapi dampak AI dan masa depan pekerjaan. Di Jerman, hanya 34% responden yang menilai ada kemungkinan pekerjaannya digantikan, sementara mayoritas 66% merasa relatif aman.

Tingkat kekhawatiran terendah dialami oleh Jepang, di mana hanya 5% responden yang merasa “pasti” akan kehilangan pekerjaan karena AI.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Utoronto.ca

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X