PejuangKantoran.com - Fenomena “nepo kids” atau istilah yang merujuk pada anak pejabat yang kerap memamerkan gaya hidup mewah, kini menjadi pemicu gejolak sosial dan politik terbesar dalam sejarah Nepal modern.
Awalnya, istilah ini populer di India sebagai sebutan bagi anak selebriti yang mudah masuk ke industri film. Namun di Nepal, maknanya berkembang lebih serius: mengarah pada kritik tajam terhadap anak-anak pejabat yang hidup glamor di tengah kesulitan ekonomi rakyat.
Dalam beberapa bulan terakhir, media sosial di Nepal dibanjiri unggahan anak pejabat yang memamerkan mobil mewah, barang bermerek, hingga liburan eksklusif. Sementara itu, mayoritas anak muda Nepal menghadapi kenyataan pahit: sulitnya mencari pekerjaan dan meningkatnya biaya hidup.
“Kesenjangan ini sudah terlalu mencolok. Mereka hidup enak karena orang tuanya berkuasa,” ujar seorang mahasiswa di Kathmandu, dikutip Al Jazeera (10/9).
Tagar #NepoKid pun menjadi tren, memperbesar gelombang kemarahan publik yang akhirnya beralih menjadi demonstrasi besar-besaran.
Baca Juga: 7 Kalimat Bos yang Paling Dibenci Karyawan, Bikin Ilfeel dan Jadi Nggak Semangat Kerja
Demonstrasi Mematikan dan Mundurnya Perdana Menteri
Puncak krisis terjadi pada Selasa, 9 September 2025, ketika massa menyerang rumah pejabat, kantor partai, hingga gedung parlemen. Bentrokan dengan aparat membuat lebih dari 20 orang tewas, termasuk istri Perdana Menteri Nepal, Radhika Shakya.
Di bawah tekanan publik yang tak terbendung, Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli akhirnya menyatakan mundur. Namun, langkah itu tidak langsung meredakan amarah masyarakat. Aksi protes tetap berlanjut dengan blokade jalan, pembakaran ban, bahkan penyerangan kantor partai di Lalitpur. Bandara Internasional Kathmandu sempat ditutup akibat eskalasi kerusuhan.
Sejumlah menteri pun ikut mengundurkan diri, di antaranya Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak dan Menteri Pertanian Ramnath Adhikari.
Baca Juga: Klan, Adhocracy, Pasar, atau Hierarki: Kenali 4 Jenis Budaya Kerja yang Pasti Bakal Kamu Temui!
Akar Masalah: Ketimpangan Sosial yang Menahun
Pengamat politik Nepal, Yog Raj Lamichhane, menilai fenomena “nepo kids” hanyalah puncak gunung es dari persoalan besar: ketimpangan sosial dan dominasi segelintir elite dalam politik.
“Anak pejabat hidup dari keuntungan politik orang tuanya. Ini menimbulkan frustrasi luar biasa di kalangan rakyat biasa,” jelasnya.
Hal serupa diungkapkan Dipesh Karki, dosen di Kathmandu University. Menurutnya, sejak era kerajaan hingga sistem republik, kekuasaan di Nepal tetap terkonsentrasi pada kelompok elit yang menguasai sumber daya negara.
“Fenomena nepo kids hanyalah wajah baru dari praktik lama, yaitu penangkapan sumber daya oleh kelompok elit,” tegas Karki.
Artikel Terkait
Jadi Pengacara Nadiem Makarim, Berapa Tarif Hotman Paris yang Harus Dibayar Mantan Mendikbud Itu?
Waspada Modus Baru Penipuan Pakai Fitur Find My iPhone, Begini Cara agar Tidak Jadi Korban
Untuk Apa Sherina Dipanggil Polisi usai Selamatkan Kucing-kucing Uya Kuya?
Disebut Murah dan Awet, Mengapa Chromebook Dibilang Kurang Cocok untuk Seluruh Indonesia?
Berbagai Pernyataan Kontroversial Menkeu Baru Purbaya Yudhi Sadewa: Dinilai Overconfidence
Belanda Bisa Bekerja 4 Hari Seminggu Tanpa Aturan Resmi, Bagaimana Caranya?
Mahasiswa Indonesia di Belanda Meninggal Saat Dampingi Pejabat di Wina, PPI Belanda Keluarkan Pernyataan
Digantikan Purbaya Yudhi Sadewa, Ini Permintaan Sri Mulyani Saat Pamit Sebagai Menteri Keuangan
Jangan Harap Bisa Memakai Google Maps sebagai Petunjuk Arah Satu-satunya di Korea Selatan!
Menkeu Purbaya: Rp425 Triliun Dana Pemerintah Mengendap di BI, Jadi Penghambat Lapangan Kerja