Baru Beberapa Bulan Gabung Meta, Alexandr Wang Sudah Tertekan Gaya Kepemimpinan Mark Zuckerberg

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:26 WIB
Hubungan antara CEO Meta Mark Zuckerberg dan Alexandr Wang dikabarkan kurang harmonis. (Britannica/Meta)
Hubungan antara CEO Meta Mark Zuckerberg dan Alexandr Wang dikabarkan kurang harmonis. (Britannica/Meta)

PejuangKantoran.com - Struktur pelaporan terbaru Meta mengungkap sesuatu yang selama ini tampaknya berusaha ditutup rapat oleh manajemen, yaitu ketegangan antara CEO Mark Zuckerberg dan karyawan yang direkrutnya dengan bayaran tertinggi di perusahaan itu, Alexandr Wang.

Kerja sama mereka semula terkesan, Ketika Zuckerberg merekrut pendiri Scale AI berusia 28 tahun itu dengan valuasi fantastis, sekitar 14 miliar dollar. Jelas sekali bahwa bergabungnya Wang adalah untuk memenuhi ambisi besar Meta di bidang AI.

Namun di balik layar, hubungan mereka tidak sepenuhnya harmonis, bahkan bisa dibilang rumit. Sumber-sumber ordal bilang, Wang merasa gaya kepemimpinan Zuckerberg yang hands-on banget dirasa malah terlalu merecoki.

Baca Juga: Chief AI Officer Meta Alexandr Wang, Sukses Berkat Dukungan Keluarga dan Kejelian Melihat Peluang

Ia bahkan mengatakan kepada orang-orang terdekatnya bahwa gaya micromanagement sang CEO terasa mencekik. Di sisi lain, sebagian karyawan Meta justru mempertanyakan apakah Wang memiliki kapasitas untuk memimpin pertaruhan AI Meta yang bernilai 600 miliar itu.

Ketegangan ini mulai santer pada musim gugur lalu, dalam rapat penting yang mempertemukan tim TBD Lab milik Wang dengan para eksekutif lama Meta, Chris Cox dan Andrew Bosworth.

Cox dan Bosworth mendorong agar model AI baru dilatih menggunakan data Instagram dan Facebook untuk memperkuat bisnis iklan inti. Wang menolak gagasan tersebut.

Ia berpendapat, fokus utama Meta seharusnya mengejar ketertinggalan dari OpenAI dan Google lebih dulu. Ia khawatir pelatihan yang terlalu disesuaikan dengan kebutuhan produk justru akan memperlambat kemajuan teknologi.

Dari sini terjadi dua kubu di internal Meta. Para peneliti Alexandr Wang melihat jajaran lama sebagai manajer produk yang masih terjebak di era media sosial. Mereka membidik superintelligence, sementara pihak lain dianggap hanya peduli pada feed dan iklan.

Bahkan beredar rumor bahwa dana sebesar 2 miliar dollar diam-diam dialihkan dari anggaran Reality Labs milik Bosworth ke tim Wang. Meski juru bicara Meta membantah angka tersebut, rumor tersebut tak kunjung reda.

Baca Juga: Beasiswa S2 Fully Funded di Korea Selatan dari KOICA, Pendaftaran Dibuka hingga Januari 2026

Masalah makin ruwet ketika Yann LeCun, ilmuwan AI legendaris Meta dan peraih Turing Award, memilih hengkang pada November lalu daripada harus melapor ke Wang.

Sumber dari ordal menyebut LeCun keberatan bekerja di bawah seseorang yang latar belakangnya lebih banyak di data labeling ketimbang riset AI mutakhir.

Sebelumnya, Nat Friedman, Head of Product di Meta Superintelligence Lab, yang juga menghadapi tekanan untuk bergerak lebih cepat. Termasuk, meluncurkan produk AI video feed bernama Vibes, yang malah dianggap terburu-buru hanya untuk mengejar OpenAI Sora.

Ironisnya, Zuckerberg merekrut Wang justru karena ia ingin seseorang yang bisa ia kendalikan. Ambisinya membangun personal superintelligence membuatnya memberi perhatian penuh pada TBD Lab. Namun perhatian itu kini terasa lebih seperti pengawasan ketat ketimbang dukungan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Times of India

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X