PejuangKantoran.com - Polemik yang melibatkan mantan penerima beasiswa LPDP Dwi Sasetyaningtyas dengan warganet yang merasa terhina karena konten “Cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan” memasuki babak baru.
Warganet beranggapan, ucapan tersebut merupakan bentuk penghinaan terhadap status WNI, dan tidak adanya rasa terima kasih Tyas (sapaan akrab Dwi Sasetyaningtyas) bahwa ia sudah menikmati pendidikan gratis di luar negeri dari pemerintah Indonesia.
Dalam pernyataan resminya mengenai kasus ini, LPDP mengungkapkan bahwa suami Tyas, yaitu Arya Iwantoro yang juga alumnus LPDP, diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusinya selama 2N+1 (dua kali masa studi ditambah satu tahun) setelah menamatkan studinya.
Baca Juga: Akhirnya, LPDP Buka Suara atas Polemik Dwi Sasetyaningtyas yang Bangga Anaknya Jadi WNA
Untuk itu LPDP akan melakukan pendalaman terkait dugaan tersebut. Sejumlah tindakan yang kemungkinan akan dilakukan di antaranya melakukan pemanggilan kepada Arya untuk meminta klarifikasi, hingga pengembalian seluruh dana beasiswa apabila kewajiban berkontribusi di Indonesia belum dipenuhi benar-benar terbukti.
Tetap berkontribusi bagi Indonesia
Kasus ini akhirnya sampai ke Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie. Menurut Stella, rasa terima kasih kepada kepada negara tidak harus diwujudkan dengan segera pulang ke Tanah Air.
Terkadang, bertahan lebih lama untuk berkarya di luar negeri hingga mencapai posisi yang lebih berpengaruh justru akan membawa manfaat yang lebih luas bagi Indonesia, demikian disampaikan Stella pada Kompas.com.
Stella mengatakan, betapa setelah bertahun-tahun berkarya di institusi terkemuka di Amerika Serikat dan Tiongkok, ia berusaha agar tetap berkontribusi bagi Indonesia.
“Saya membimbing mahasiswa Indonesia di universitas AS dan Tiongkok, berbicara di komunitas di Indonesia, serta menjembatani kerja sama antara institusi Indonesia dan lembaga pendidikan tinggi dunia," ujar Stella, yang menyelesaikan PhD-nya dari bidang psikologi kognitif, Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat.
Baca Juga: Ketentuan Pengabdian Penerima Beasiswa LPDP dan Penindakan bagi Alumni yang Tidak Mengabdi
Selama bekerja di berbagai institusi di luar negeri (di antaranya sebagai Asisten Profesor tetap di Swarthmore College, Pennsylvania, AS, dan profesor di Universitas Tsinghua, Beijing, China), Stella juga selalu menyuarakan identitasnya sebagai orang Indonesia.
Kebanggaan itulah yang memperkuat reputasi ilmuwan Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, hal yang sama dilakukan oleh hampir semua ilmuwan diaspora Indonesia. Bahkan mereka menunjukkan keinginan yang kuat untuk kembali ke Indonesia dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.
"Contoh-contoh baik ini perlu disorot. Prof Vivi Kashim di Tiongkok, Prof Sastia Putri di Jepang, Prof Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk," ujar Stella Christie.
Begitu pula yang terjadi pada sejumlah warga India yang menduduki puncak di berbagai perusahaan teknologi di Silicon Valley di Amerika Serikat. Mereka itu yang disebutnya mampu menciptakan aliran investasi serta lapangan kerja bagi negaranya.
Artikel Terkait
8 Kesalahan Pemakaian Sweat Suit Saat Berolah Raga yang Berisiko Fatal
Mulai Februari 2026, Visa Inggris Tak Bakal Lagi Ditempel di Paspor! Semuanya Jadi Digital
Perusahaan di China Beri Cuti 10 Hari untuk Karyawan yang Lagi “Tidak Bahagia”
Lowongan Kerja untuk 17 Posisi Dibuka! Peluang Karier Bersama PT Reska Multi Usaha (KAI Services)
Ibu Rumah Tangga Kini Bisa Punya Perlindungan Finansial Lewat BPJS Ketenagakerjaan
Demi Kenyamanan Para Aktor Cilik 'Na Willa', Lokasi Syuting Disulap Jadi Sangat Ramah Anak
Brisk Walk vs Japanese Walking, Mana yang Lebih Baik Dilakukan Saat Puasa?