PejuangKantoran.com - Yang namanya penipuan online memang sudah lama ada. Dulu, kita sering menerima email berisi pesan dari pangeran Nigeria yang menjanjikan warisan jutaan dolar.
Dulu, kita bisa langsung mengabaikan penipuan seperti itu karena jelas banget nggak masuk akal. Tapi, zaman sudah berubah. Sekarang, penipuan menjadi jauh lebih halus, lebih pintar dalam mengelabui, dan yang paling mengerikan rasanya seperti betulan.
Tren penipuan sekarang ini memang sudah bergeser dari hal-hal yang terasa khayalan jadi tawaran pekerjaan yang kebetulan memang sedang kita butuhkan. Para penipu tidak lagi mengiming-imingi warisan dari kerajaan, tapi pesan berupa lowongan kerja remote yang mendesak kamu agar melamar sekarang juga.
Baca Juga: Curhat Karyawan Lajang yang Selalu Harus Back-up Teman Kantor yang Sering Izin Urusan Anak
Salah satu contohnya, kamu ditawari pekerjaan yang too good to be true. Kerjanya sebentar, gampang, bisa dikerjakan di rumah, lalu honor/gaji bisa langsung masuk. Misalnya, pekerjaan memberi rating ulasan atau me-review hotel atau restoran di Google Review.
Banyak orang menyebut fenomena job scam ini sebagai indikator resesi yang sangat akurat. Para penipu tidak lagi menjual mimpi jadi kaya mendadak. Mereka memanfaatkan keputusasaan ekonomi yang memang banyak dialami masyarakat.
Saat ini ada begitu banyak pencari kerja yang sedang berjuang. Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan ada sekitar 7,6 juta orang yang menganggur di Amerika Serikat, dan 6 juta di antaranya benar-benar ingin segera mendapatkan pekerjaan.
Bagi mereka yang tidak punya dana darurat atau dukungan finansial dari keluarga, mencari pekerjaan itu bagian dari bertahan hidup. Meski belum ada penghasilan, mereka harus tetap menyediakan makan buat esok hari atau bayar kontrakan.
Kekhawatiran inilah yang diincar para penipu. Sepanjang paruh pertama tahun 2024 saja, sudah ada sekitar Rp3,7 triliun uang masyarakat yang hilang akibat penipuan lowongan kerja.
Biasanya, penipu menawarkan lowongan kerja jarak jauh (WFH) yang terkesan gampang banget untuk menarik minat calon korban. Penipuan online ini tidak hanya datang lewat pesan Whatsapp, tetapi terkadang juga muncul di situs lowongan kerja resmi yang jadi andalan kita.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan WFH Satu Hari dalam Seminggu bagi Pegawai ASN maupun Swasta, Enaknya Hari Apa?
Faktanya, orang-orang yang kena job scam ini sama sekali bukan orang bodoh. Survei dari Gallup menemukan bahwa 15% orang Amerika, atau setidaknya salah satu anggota rumah tangga mereka, pernah jadi korban penipuan.
“Sebagian besar orang yang akhirnya kehilangan uang karena tertipu sebenarnya berperilaku cukup rasional. Para penipu itu canggih, dan mereka terus mengubah taktik mereka,” ujar Kati Daffin, asisten direktur di divisi praktik pemasaran Federal Trade Commission (FTC).
Para penipu ini tahu cara memanipulasi psikologi korbannya. Ketika seseorang berada dalam tekanan ekonomi yang berat, logika mereka bisa terkalahkan oleh kebutuhan mendesak.
Advokat antimonopoli Matt Stoller menyebut kondisi ini sebagai "boomcession", di mana secara data ekonomi terlihat baik-baik saja, tapi pada kenyataannya masyarakat masih sangat kesulitan.
Artikel Terkait
Cara Merespons Jika Diundang Interview saat Lagi Liburan, biar Tetap Dapat Peluang Kerja
Hati-hati, usai Lapor SPT Tahunan Banyak Beredar Pesan Penipuan dari Oknum Petugas Pajak
Pesan Paus dan Berita Seputar Gereja Kini Tersedia dalam Bahasa Indonesia di Vatican News
Jumlah Playtime Fortnite Anjlok, Epic Games Umumkan PHK Lebih dari 1.000 Karyawan
Menyusuri Jakarta dengan Cerita: Saatnya Jadi Pemandu Wisata Profesional
Walk-In Interview di % ARABICA, Lowongan Kerja untuk 3 Posisi Profesional
Sesuai Janji Cellos Botak, Byon Combat Showbiz Vol. 7 akan Digelar di Malaysia April Mendatang!