Sebagai CTO, dia ingin mengubah sistem kerja dari pemrograman tradisional menjadi pemrograman berbasis agen AI.
Bos Nvidia, Jensen Huang, sepertinya juga setuju. Dia menilai produktivitas insinyurnya dari seberapa banyak mereka belanja "token" AI.
Gambarannya begini: dia ingin insinyur yang digaji 500 ribu dollar setahun, setidaknya juga menghabiskan 250 ribu dollar hanya untuk mendongkrak produktivitas.
Baca Juga: Perbedaan Bos dan Leader, dari Cara Berkomunikasi hingga Mengambil Keputusan yang Lebih Disukai Tim
Sebuah studi dari MIT pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 77% pekerjaan sebenarnya masih lebih baik jika dilakukan oleh manusia. Namun, meski biaya operasional AI mahal, teknologi ini punya satu keunggulan, yaitu bisa bekerja 24 jam sehari.
Toh, tidak bisa dipungkiri kalau perusahaan yang terjebak dalam euforia AI tanpa rencana yang matang akhirnya malah rugi besar. Membuat produk dengan AI kesannya memang mudah, tapi bakal jauh lebih rumit kalau spesifikasinya terus berubah.
Nah, di saat kita sekarang sedang di masa transisi, apakah pengeluaran dobel (membayar gaji sekaligus token AI) akan menjadi standar baru? Atau hanya sementara sampai AI bisa benar-benar mengambil alih?
Artikel Terkait
Boleh Nggak Sih, Ngerekam Orang di Tempat Umum buat Konten Medsos tanpa Setahu Mereka?
Jangan Remehkan Minum atau Hidrasi Saat Berlari, Dampaknya Pada Performa Larimu Siginifikan!
Cermati, Sebagai Pekerja Project-Based Status Kamu Bisa PKWT atau Freelance Tergantung Dari Sejumlah Hal Ini
Cara Mengubah Gaya Kepemimpinan dari Bos Menjadi Leader untuk Menurunkan Turnover Karyawan
Kerja Sampingan Jadi “Mode Bertahan” Pekerja Indonesia
167 BUMN Ditutup, Tapi Pemerintah 'Janji' Tak ada yang di PHK
Buat yang Berusia 20-40 Tahun, Ini 8 Kota Terbaik Dunia untuk Tinggali, Tak Ada Jakarta