PejuangKantoran.com - Mengenali tanda-tanda pelaku KDRT sejak dini sangat penting untuk menyelamatkan dirimu dari siksaan fisik dan psikis yang lebih parah. Belajar dari kasus publik seperti kasus KDRT yang dialami pasangan selebriti Ferry Irawan dan Venna Melinda, serta kasus penyekapan sadis YTR oleh Taufik Hidayat, ada pola perilaku spesifik yang kerap ditunjukkan pelaku.
Baca Juga: Kasus Dugaan KDRT Venna Melinda-Ferry Irawan: 5 Sinyal Bahwa Pasangan Adalah Pelaku KDRT
Berikut adalah tanda-tanda utama pasangan yang berpotensi menjadi pelaku KDRT:
Kontrol Berlebihan dan Cemburu Buta
Pelaku KDRT sering kali menunjukkan posesif ekstrem di awal hubungan. Mereka mungkin melarang dirimu bertemu teman atau keluarga, memantau ponsel secara diam-diam, atau mendikte cara berpakaian Anda dengan dalih "cinta" atau "perlindungan".
Mengisolasi Korban dari Lingkungan Sosial
Salah satu cara pelaku mempertahankan kekuasaannya adalah dengan memutus jaringan dukungan korban. Hal ini terlihat jelas dalam kasus YTR di Bandung, di mana ia hampir sepenuhnya putus kontak dan diisolasi oleh pelaku selama bertahun-tahun. Isolasi ini membuat korban merasa tidak memiliki tempat untuk meminta tolong.
Manipulasi Emosi dan Gaslighting
Pelaku sering membalikkan fakta dan menyalahkan korban atas kesalahan yang mereka lakukan (manipulasi psikologis atau gaslighting). Banyak kasus pelaku justru malah playing victim dan membantah perilakunya. Selain itu pelaku juga mahir meminta maaf secara dramatis untuk sementara waktu, namun mengulangi kesalahannya kembali.
Sifat Temperamental dan Sulit Mengontrol Amarah
Jika pasangan Kamu mudah meledak-ledak karena masalah sepele atau sering menjadikan barang dan hewan sebagai pelampiasan amarah, ini adalah bahaya besar. Pelaku penyiksaan YTR, Taufik Hidayat, bahkan berdalih melakukan penyiksaan sadis hingga korban mengalami luka berat akibat pengaruh alkohol.
Suka Merendahkan dan Mengintimidasi
KDRT tidak selalu berwujud pukulan fisik. Pelaku sering kali melakukan kekerasan verbal seperti menghina, mempermalukan Kamu di depan umum, atau merendahkan harga diri Kamu. Hal ini dilakukan agar korban merasa tidak berdaya dan bergantung sepenuhnya pada pelaku.
Artikel Terkait
Dideklarasikan, Kepmenaker tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Tempat Kerja
Film 'Saat Aku Bersuara' Hadirkan POV Penyintas Kekerasan Seksual Melawan Budaya Pembungkaman