PejuangKantoran.com - Seragam awak kabin atau pramugari bukan sekadar pakaian kerja. Seiring perubahan zaman, desainnya ikut berkembang dari gaya formal dan konservatif hingga tampilan yang lebih modern, praktis, dan mencerminkan identitas sebuah maskapai.
Pada masa awal penerbangan komersial, seragam awak kabin banyak terinspirasi dari pakaian militer. Potongannya cenderung formal dengan jaket, rok panjang, topi, dan warna-warna gelap. Seiring industri penerbangan berkembang, desain pun mulai mengikuti tren mode.
Memasuki era 1960-an dan 1970-an, seragam menjadi jauh lebih berani. Warna-warna cerah, motif mencolok, hingga potongan dress mulai digunakan. Air New Zealand, misalnya, pernah menggunakan seragam dengan warna pastel cerah dan siluet A-line pada awal 1970-an.
Namun, memasuki era modern, fungsi menjadi semakin penting. Seragam tidak hanya harus terlihat elegan, tetapi juga memungkinkan awak kabin bergerak dengan leluasa, nyaman digunakan dalam penerbangan panjang, mudah dirawat, serta memiliki ruang penyimpanan yang cukup.
Baca Juga: 9 Contoh Email Pengajuan Izin WFH dalam Bahasa Inggris yang Disesuaikan Kebutuhan Kamu
Tren terbaru bahkan mulai menggeser penggunaan sepatu formal. Sejumlah maskapai memasukkan sneakers sebagai bagian dari seragam untuk memberikan kenyamanan lebih kepada kru yang harus berdiri dan berjalan selama berjam-jam. S7 Airlines, misalnya, memperkenalkan koleksi baru dengan pilihan sneakers hitam sebagai pengganti sepatu formal.
Baca Juga: 5 Alasan Tak Terduga Perusahaan-perusahaan di Jepang Sangat Lambat dalam Mengadopsi AI
Di sisi lain, seragam juga semakin berperan sebagai identitas visual maskapai. Emirates mempertahankan kombinasi merah dan krem yang telah menjadi ciri khasnya selama puluhan tahun, sementara maskapai baru seperti Riyadh Air bahkan menggandeng desainer haute couture untuk menciptakan tampilan yang lebih fashion-forward.
Perubahan ini menunjukkan bahwa seragam awak kabin kini berada di antara fashion, branding, dan fungsi. Dari rok formal dan topi hingga sneakers dan koleksi yang lebih fleksibel, pakaian awak kabin terus berubah mengikuti cara dunia memandang perjalanan udara.
Artikel Terkait
652 Perusahaan BUMN Bakal Hilang, Danantara Targetkan Tinggal 250 Entitas
Ketika Kualitas Udara Buruk Akibat Kabut Asap Bakaran Sampah atau Lahan, Bagaimana Gen Z Seperti Kita Harus Bersikap
87 Ribu Pekerja Klaim JHT karena PHK hingga Mei 2026, Pasar Kerja Masih Tertekan
Claude Mulai Pakai Watermark Tersembunyi untuk Menandai Tulisan yang Dibuat Pakai AI
Pengguna Claude Protes soal Watermark yang Ditetapkan Anthropic untuk Menandai Teks Buatan AI
Bukan Rp1, Tarif Transportasi Umum Jakarta 17 Agustus Jadi Rp8
Lulusan S1 Banyak Menganggur, Ini 5 Jurusan dengan Jumlah Pengangguran Terbesar
BLT ala Singapura, Bukan Sekadar Bagi Uang, Ini Cara Singapura Menentukan Penerima Bantuan Tunai dan Pelajarannya untuk Indonesia
Rasa Pusing dan Mual Ketika Naik Mobil Listrik, Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya
5 Alasan Tak Terduga Perusahaan-perusahaan di Jepang Sangat Lambat dalam Mengadopsi AI