PejuangKantoran.com - Jepang hampir selalu menjadi negara yang tata kehidupannya dijadikan contoh. Entah karena tradisi yang dipegang teguh atau kedisiplinannya.
Padahal, Jepang sebenarnya juga punya masalah serius, dari krisis tenaga kerja, populasi yang menua, hingga produktivitas yang tergolong rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan lain mungkin akan langsung memanfaatkan AI. Tapi, hal itu tidak terjadi di Jepang.
Penerapan AI di tempat-tempat kerja di Jepang terbilang sangat lambat. Data OECD mencatat, cuma sekitar 8,4% pekerja di Jepang yang memakai AI. Angka ini jauh tertinggal dari AS yang mencapai 50% atau Singapura yang menembus 56%.
Baca Juga: Mengapa Pengajuan Izin WFH Sering Ditolak Atasan? Begini Cara Bikin Si Bos Bilang 'Yes!'
Apa yang sebenarnya terjadi di Jepang?
Alasan Jepang lambat mengadopsi AI
Keterlambatan ini bukan tanpa sebab. Ada beberapa alasan utama yang membuat perusahaan di Jepang enggan terburu-buru menggunakan AI di tempat kerja:
• Budaya sangat takut risiko. Perusahaan Jepang terkenal konservatif. Toleransi mereka terhadap kesalahan AI mendekati nol, apalagi untuk urusan yang berhadapan langsung dengan klien. Mereka bahkan lebih memilih membiarkan posisi kerja kosong daripada diisi oleh mesin.
• Harus melalui keputusan bersama. Budaya kerja di sana sangat mengagungkan keputusan bersama. Sebelum satu teknologi baru dipakai, persetujuannya butuh waktu sangat lama.
• Sistem IT yang kuno. Sekitar 60% sistem komputer perusahaan di Jepang ternyata sudah berumur lebih dari 20 tahun. Bahkan di sektor kesehatan, masih banyak rumah sakit yang memakai tumpukan kertas daripada digitalisasi data.
Baca Juga: Series 'Jakarta Undercover Members Only' Menghadirkan Persoalan Jakarta yang Lebih Kekinian
• Literasi digital rendah. Ini nggak nyangka banget, sih. Orang Jepang memang suka dengan gadget seperti ponsel pintar, tapi pemahaman teknisnya terbilang rendah. Jepang bahkan diprediksi bakal kekurangan sekitar 800.000 tenaga ahli IT pada tahun 2030.
• Prioritas menjaga lapangan kerja. Ketimbang memangkas karyawan demi efisiensi AI, perusahaan dan pemerintah Jepang lebih mengutamakan pencegahan pengangguran.
Agar perusahaan tidak gagap AI
Melihat kasus di Jepang, ada beberapa tips yang bisa diterapkan perusahaan agar tidak terlalu lambat beradaptasi dengan AI:
Artikel Terkait
PBB Buka Lowongan Internship di Indonesia, Pelajari Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan
Lulusan S1 Banyak Menganggur, Ini 5 Jurusan dengan Jumlah Pengangguran Terbesar
Ingat! Tidak Semua Tren Fitness dan Kesehatan di Media Sosial Harus Kamu Ikuti. Karena Belum Tentu Aman Lho Buat Kita
Tren Olahraga Low Impact, Mengapa Pilates, Nordic Walking, sampai Reformer Makin Digemari?
BLT ala Singapura, Bukan Sekadar Bagi Uang, Ini Cara Singapura Menentukan Penerima Bantuan Tunai dan Pelajarannya untuk Indonesia
Rasa Pusing dan Mual Ketika Naik Mobil Listrik, Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya
Lore Chasing: Tren Liburan Spontan di Tahun 2026