Sektor pertanian menjadi salah satu sektor ekonomi yang paling rentan. Kekurangan air dapat mengganggu jadwal tanam, menurunkan produktivitas tanaman dan meningkatkan kebutuhan irigasi.
Jika produksi beras, hortikultura, kopi, atau komoditas lain terganggu, efeknya bisa merambat ke harga pangan. Petani menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, sementara konsumen berpotensi menghadapi kenaikan harga.
Baca Juga: 30 Kota Paling Populer buat Digital Nomad, Canggu Bali Masih Jadi Favorit dari Indonesia
Risiko tersebut tidak hanya berasal dari produksi domestik. El Niño kuat juga dapat mengganggu produksi komoditas tropis dunia. Indonesia dan Vietnam, misalnya, merupakan produsen besar kopi robusta yang sangat sensitif terhadap panas dan kekeringan.
Artinya, efek El Niño bisa terasa melalui dua jalur sekaligus: produksi dalam negeri terganggu dan harga komoditas global menjadi lebih volatil.
Inflasi Bisa Mendapat Tekanan Baru
Bila harga pangan meningkat, pemerintah berpotensi menghadapi tekanan untuk menjaga daya beli masyarakat. Komoditas pangan memiliki peran penting dalam inflasi sehingga gangguan produksi dalam waktu panjang dapat menjadi persoalan ekonomi, bukan sekadar persoalan pertanian.
Di sisi lain, pemerintah juga harus mengeluarkan lebih banyak sumber daya untuk menghadapi dampak bencana, mulai dari pengendalian karhutla, penyediaan air, bantuan kepada petani hingga pemulihan wilayah terdampak.
Dengan kata lain, semakin panjang periode El Niño, semakin besar pula biaya ekonomi yang harus disiapkan.
Baca Juga: Waspadai Penyakit Paru Akibat Pajanan Asap Rokok dan Polusi Udara pada Kalangan Usia Produktif
Bukan Berarti Ekonomi Indonesia Pasti Terpuruk
Meski risikonya besar, El Niño tidak otomatis berarti pertumbuhan ekonomi Indonesia akan jatuh. Dampaknya sangat bergantung pada seberapa efektif pemerintah dan pelaku usaha melakukan mitigasi.
Ketersediaan cadangan pangan, pengelolaan irigasi, distribusi antardaerah, pengendalian karhutla dan sistem peringatan dini menjadi faktor penting untuk membatasi dampak ekonomi.
Bagi dunia usaha, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa perubahan iklim semakin sulit dipisahkan dari strategi bisnis. Perusahaan yang bergantung pada komoditas pertanian, air, energi atau rantai pasok wilayah rawan kebakaran perlu memperhitungkan risiko cuaca ekstrem dalam perencanaan bisnis.
Ekonomi Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi “Musim Risiko”
Artikel Terkait
Warga Jakarta Makin Terpapar Polusi, Uji Emisi Kendaraan Jadi Langkah Proaktif
Awas Polusi Udara, Bisa Sebabkan Banyak Masalah Kulit termasuk Penuaan Dini
Panas dan Polusi Lagi Mengigit, Awas Serangan Batuk Makin Menjadi!
Betulkah Sering Ngopi Bisa Memicu Gundulnya Hutan? Simak Fakta-faktanya!
Ketika Kualitas Udara Buruk Akibat Kabut Asap Bakaran Sampah atau Lahan, Bagaimana Gen Z Seperti Kita Harus Bersikap
Pekerja Lapangan Paling Rentan Terpapar Kabut Asap Kebakaran Hutan, Bisakah Mereka WFH?
Kabut Asap Dari Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya. Gunakan Masker yang Tepat Seperti Berikut Ini!