Fenomena Hikikomori di Jepang, Isolasi Diri Karena Tekanan Sosial Tinggi

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Kamis, 13 April 2023 | 20:49 WIB
 Mengurung diri atau mengisolasi diri dari dunia luar bisa menjadi tanda depresi.  (Pixabay/Stocksnap)
Mengurung diri atau mengisolasi diri dari dunia luar bisa menjadi tanda depresi. (Pixabay/Stocksnap)

“Orang yang menghadapi hikikomori memerlukan dukungan keluarga, terapi individu atau kelompok, dan praktisi kesehatan yang dapat membantu orang tersebut mengatasi kondisi tersebut,” katanya.

Baca Juga: Waspada, Turnover Karyawan Bisa Diprediksi dari Tanda-tanda Awal Seperti Ini

Salah satu bentuk dukungan yang dilakukan oleh para orang tua di Jepang adalah membayar seseorang untuk menjadi “saudara”. Saudara sewaan ini dibayar sekitar ¥100 ribu atau lebih dari Rp12 juta setiap.

Tugas mereka adalah untuk bertemu dan berbicara dengan penderita hikikomori selama beberapa jam setiap minggunya. “Pekerjaan” ini dianggap berhasil jika bisa membuat orang yang tadinya mengisolasi diri kembali ke dunia sosial dan bahkan hidup secara mandiri.

Sebenarnya, fenomena hikikomori ini tidak hanya terjadi di Jepang. Di negara-negara lain, seperti Amerika, Italia, Korea Selatan, dan Inggris, yang memiliki generasi muda yang merasa kewalahan dengan tekanan sosial juga bisa mengalami fenomena tersebut. (Elga Windasari)

Sumber: The Indian Express, BBC One

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: The Indian Express

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X