news

Bisnis Keluarga Sutowo, Banyak yang Sukses Besar dan Tak Sedikit Juga yang Tumbang

Kamis, 5 Oktober 2023 | 21:00 WIB
Hak Guna Bangunan yang dimiliki PT Indobuildco sudah tidak berlaku lagi sehingga kepemilikan Hotel Sultan kembali ke tangan pemerintah dan negara. (Sultanjakarta.com)

Baca Juga: Review 'A Time Called You': Perjalanan Jeon Yeo-been Mencari Jati Diri

Adiguna Sutowo jadi pemilik salah satu grup media terbesar di Indonesia

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Darah bisnis Ibnu ternyata mengalir ke anak-anaknya, salah satunya Adiguna Sutowo.

Adiguna dikenal sebagai pendiri PT Mugi Restu Abadi alias MRA Group bersama Soetikno Soedarjo dan Dian M. Soedarjo. Ini merupakan perusahaan induk untuk Hard Rock Cafe hingga radio, jaringan radio Cosmopolitan.

Hard Rock Cafe pertama kali beroperasi di gedung Sarinah, Jakarta Pusat. Kemudian, sempat pindah ke eX dan terakhir pindah ke Mal Pacific Place pada 16 September 2013. Namun, pada 31 Maret 2023 Hard Rock Cafe resmi ditutup permanen.

Hal itu dikarenakan masa sewa selama 10 tahun sudah habis serta semakin meningginya syarat dan jumlah sewa baru. Dari segi finansial, Hard Rock Cafe yang menyediakan masakan Amerika segar dan autentik sudah tidak sanggup lagi bersaing.

Setelah Adiguna tak lagi memiliki MRA Group, perusahaan tersebut sekarang diserahkan ke anaknya, yaitu Maulana Indraguna Sutowo atau suami dari Dian Sastro. 

Baca Juga: Wealth Wisdom 2023 Ajak Masyarakat Melek Keuangan untuk Membangun Kekayaan Secara Holistik

Pontjo Sutowo si “pemilik” Hotel Sultan

Anak Ibnu Sutowo lainnya yang juga terjun ke dunia bisnis adalah Pontjo Sutowo. Ia mulai berkecimpung di dunia bisnis dengan modal dari ayahnya yang saat itu masih menjabat Dirut Pertamina.

Bisnis pertama Pontjo adalah membangun galangan kapal dengan tujuan membangun industri maritim Indonesia.  Akhirnya, dibangunlah Adiguna Shipyard dan bisnis jualan motor tempel kapal impor dimulai.

Awalnya, perusahaan tersebut hanya membuat tongkang kecil hingga pada 1972 Adiguna Shipyard mampu membuat hingga 500 buah kapal tanker dengan bobot mati 3.500 DWT. Jumlah galangan kapalnya juga berkembang menjadi empat buah. 

Adiguna Shipyard bahkan menjadi perusahaan pelopor pembuat kapal-kapal berbahan fiber. Ini juga perusahaan pertama yang membawa teknologi fiberglass ke Indonesia.

Pada 1976, Pontjo mulai masuk ke dunia perhotelan dan resmi mengambil alih manajemen di Hotel Hilton—yang sekarang menjadi Hotel Sultan—pada 1982. 

Selain berbisnis di bidang hotel, ia juga aktif di bidang pariwisata, bahkan sempat menjadi ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia pada 1989 – 2001. 

Halaman:

Tags

Terkini