Jika tidak dibenahi secara sistematis, riset menyebut bahwa job-education mismatch yang membuat latar pendidikan dan pekerjaan tidak selaras, akan membuat besaran upah kerja terdampak.
Khususnya mereka yang masuk golongan pekerja yang ada di bawah skala upah.
Baca Juga: Ada Peningkatan Jumlah Kasus, Begini Gejala dan Cara Merawat Penderita COVID-19 Varian Terbaru
Sementara untuk jangka panjang, dampak negatifnya yang disebut oleh para pakar adalah negara jadi kesulitan mencetak SDM yang benar-benar unggul di bidangnya.
“Implikasinya untuk negara sih, kita jadi lebih sulit dalam mencetak SDM unggul, ya. Jadi, agak terhambat juga, ya, kita mendapatkan SDM unggul yang benar-benar jago banget di bidang masing-masing,” jelas Ina Liem, founder Jurusanku.com.
Apa yang bisa menjadi solusinya?
Menurut peneliti, salah solusi yang bisa diterapkan adalah institusi pendidikan harus mulai memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pasar kerja sejak awal.
Lalu, sekolah juga harus bisa memberi ruang kepada murid-muridnya untuk mencoba aspirasi karir tertentu sebelum dihadapkan pada kenyataan setelah lulus.
Baca Juga: Meski Nikmat, Sarapan Kopi dan Telur Ternyata Tidak Disarankan. Ini Alasannya!
Terakhir dan yang tidak kalah penting adalah program magang yang diberikan di pendidikan tinggi bisa dibuat lebih sederhana dan menyatu dengan jenjang pendidikan yang ada.
Jika kamu salah satu “korban” job-education mismatch, kira-kira solusi apa yang tepat untuk mengatasi tingginya jumlah lulusan yang bekerja bukan di bidang yang dipelajarinya? (Elga Windasari)