PejuangKantoran.com - Ketika kamu melewati toko roti yang memancarkan aroma roti yang baru keluar dari oven, hm… kamu pasti langsung terbayang kelezatannya. Bisa jadi kamu langsung masuk ke toko untuk membelinya.
Hal yang sama jika kamu melewati kedai kopi, toko kosmetik dan skincare, atau toko pernak-pernik gaya hidup di Bali yang memancarkan wangi rempah, aroma khas toko tersebut pasti akan selalu jadi kenangan.
Aroma khas toko yang digunakan oleh banyak merek sebenarnya bukan trik pemasaran yang baru. Namun mulai tahun 1990-an, sense marketing atau pemasaran indera menjadi praktik yang lebih terorganisir.
Baca Juga: Miss USA 2023 Noelia Voigt Mundur dari Gelarnya Demi Kesehatan Mental
Indera yang paling mendasar, yang paling membekas dalam ingatan kita, adalah penciuman. Otak memproses bau di korteks penciuman, yang membentuk respons emosional, sehingga mampu menyimpan kenangan tertentu.
Dirancang khusus
Aradhna Krishna, seorang profesor pemasaran di Universitas Michigan, adalah salah satu peneliti pertama yang mempelajari titik temu antara indera dan branding.
Dua indera atau lebih yang bekerja bersama-sama, menurutnya, lebih kuat daripada satu indera yang bekerja sendiri.
Contohnya, foto kue chocolate chip memang bagus, tapi foto yang dipadukan dengan aroma kue yang dipanggang mungkin lebih membuat kamu ngiler.
“Aroma dalam produk dapat meningkatkan ingatan akan atribut lainnya,” katanya. “Anda ingat nama mereknya, apa bentuk produknya, di mana Anda menggunakannya. Baunya terkait secara unik dengan produknya.”
Eksperimen menunjukkan bahwa pelanggan di ruangan yang berbau harum –tidak hanya toko, tetapi juga kasino dan lobi hotel –menghabiskan lebih banyak waktu di sana tanpa menyadarinya.
Mereka cenderung memeriksa produk tertentu, dan menghabiskan lebih banyak uang, termasuk untuk membeli produk.
Kadang-kadang, pelanggan tidak menyadari bahwa mereka mencium sesuatu yang dirancang khusus untuk menarik mereka.