PejuangKantoran.com - Gaslighting di tempat kerja adalah sesuatu yang nyata. Perilaku ini merupakan suatu bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang atau kelompok dengan sengaja membuat korbannya mempertanyakan ingatan, persepsi, kewarasan, atau kenyataan itu sendiri.
Para pelaku gaslighting di tempat kerja seringkali berada di posisi senior, yang kemungkinan melakukannya untuk mencoba memperkuat dinamika kekuasaan di tempat kerja.
Mereka mencoba melemahkan kepercayaan dan kompetensi targetnya demi keuntungan pribadi, sehingga korban merasa bingung, tidak yakin, dan pada akhirnya tidak berdaya.
Baca Juga: 8 Kesalahan Memakai Paspor yang Sering Dilakukan Orang saat Melakukan Business Trip
Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan di Frontiers In Psychology menemukan bahwa gaslighting di tempat kerja terdiri atas dua jenis perilaku manipulatif, yaitu: “meremehkan” dan “penderitaan.”
Mark Travers, PhD, psikolog dari Cornell University, Amerika, memaparkan dua tanda gaslighting di tempat kerja yang akan membebani kesehatan mental dan kepuasan kerja karyawan:
1. Kekhawatiran karena selalu diremehkan
Para peneliti menggambarkan sikap meremehkan sebagai kecenderungan untuk menyederhanakan fenomena secara berlebihan, dan bersikap skeptis terhadap parahnya suatu situasi.
Meremehkan mengacu pada pelemahan yang dilakukan pelaku terhadap perspektif korban, ketakutan, dan kenyataannya.
Contoh sikap meremehkan yang dilakukan oleh pelaku antara lain mengubah topik untuk menyalahkan korban, meminimalkan kekhawatirannya, dan membuat janji yang tidak sesuai dengan tindakan mereka.
Baca Juga: Observatorium Tertinggi Dunia Dibuka di Chile Setelah Perencanaan Konstruksi 26 Tahun
Selain itu juga memutarbalikkan atau salah mengartikan hal-hal yang dikatakan korban, membuat komentar yang merendahkan korban, tapi berpura-pura bahwa korban tidak akan tersinggung.
Jika sering diremehkan, korban mungkin mulai meragukan persepsi dan perasaannya sendiri, dan bertanya-tanya apakah mereka hanya bereaksi berlebihan atau terlalu sensitif.
Ketika korban terus-menerus diberi tahu bahwa kekhawatiran mereka tidak penting, hal itu bisa mengikis rasa percaya diri dan harga diri mereka seiring berjalannya waktu.
2. Merasa diri sama sekali tidak berharga
Artikel Terkait
Didukung Produser Film Korea, Malam Pencabut Nyawa Angkat Tema Roh Gelap yang Rasuki Dunia Mimpi
Sebagai Walikota London, Sadiq Khan Bisa Menetapkan Gaji dan Tunjangan Pensiunnya Sendiri
Sejarah Sepatu Bata, Sepatu Asal Ceko yang Sering Dikira Produk Lokal!
Bergantung pada AI, Surat Lamaran Lulusan Baru Cenderung Plek-Ketiplek dengan Milik Kandidat Lain
Emirates Buka Recruitment Day Posisi Cabin Crew di Jakarta, Catat Tanggalnya Bulan Mei Ini!
Pramugari Jadi Profesi Impianmu? Nih Emirates Bakal Rekrut 5.000 Awak Kabin pada 2024
Begini Rasanya Menjadi Awak Kabin di Maskapai UEA dengan Gaji Puluhan Juta Sebulan
BPS: Jumlah Pekerja Disabilitas di Indonesia Naik 160 Persen di 2022