PejuangKantoran.com - Di era ketika pengusaha berlomba-lomba membangun kedai kopi dengan desain ruang yang “Instagramable” dan koneksi Wifi gratis, Edward Tirtanata dan teman lamanya, James Prananto, memilih konsep grab-and-go untuk usaha kopi yang mereka dirikn.
Saat itu, tahun 2017, kedua anak muda itu sama-sama menginvestasikan total $15.000 untuk lokasi grab-and-go pertama mereka di Jakarta.
Model ini membuat mereka tak perlu keluar biaya sewa dan mendesain ruang kafe. Mereka lebih berniat menginvestasikan uang tersebut untuk membeli bahan-bahan berkualitas.
Baca Juga: Dampak Loud Quitting terhadap Perusahaan dan Moral Karyawan yang Bertahan Sama-sama Buruk
“Daripada fokus pada sofa atau Wi-Fi cepat, kami akan fokus pada secangkir kopi yang enak dan berkualitas tinggi,” kata Edward, founder dan CEO Kopi Kenangan.
Seperti banyak anak muda lain, dirinya menggemari kopi. Di perguruan tinggi, Edward sangat menyukai kopi sampai-sampai memesan “satu cangkir besar” setiap hari dari Dunkin’ Donuts atau 7-Eleven.
Keputusan itulah yang mendorong Kopi Kenangan untuk menjangkau lebih dari 200 lokasi dan 10 kota dalam dua tahun pertama operasinya.
Bukan itu saja. Apa yang dimulai sebagai kedai kopi lokal Indonesia pada tahun 2017 kini sudah menjadi merek kopi internasional yang bernilai lebih dari $1 miliar, dengan lebih dari 800 lokasi di Asia Tenggara.
Perusahaan ini meraup lebih dari $100 juta dalam penjualan pada tahun 2023. Dalam kurun waktu tujuh tahun, Kopi Kenangan berubah dari kedai kopi lokal Indonesia menjadi perusahaan kopi unicorn yang didukung oleh modal ventura.
Pendiri dan CEO berusia 35 tahun itu masih meminum secangkir kopi setiap hari. Hanya saja, dia meningkatkannya menjadi tiga cangkir atau lebih dalam sehari untuk proses pengujian produk.
Baca Juga: Penyebab Loud Quitting, ketika Karyawan Mengumumkan Pengunduran Diri di Media Sosial agar Viral
Cikal-bakal Kopi Kenangan
Sebelum mendirikan Kopi Kenangan pada tahun 2015, Tirtanata membuka kedai teh bernama Lewis & Carroll dengan lokasi di seluruh Indonesia.
Ketika membuka toko kelimanya, Edward menyadari bahwa kedai teh tersebut tidak menghasilkan keuntungan seperti yang dia harapkan.
Edward dan temannya, James Prananto, suatu hari menemukan penyebab masalah itu ketika sedang ngobrol santai di kedai tehnya: banyak jaringan kopi dan teh besar di Indonesia yang harganya terlalu mahal bagi penduduk lokal.