Penyebab Loud Quitting, ketika Karyawan Mengumumkan Pengunduran Diri di Media Sosial agar Viral

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 31 Mei 2024 | 15:42 WIB
Ilustrasi: Apa penyebab loud quitting, yang dilakukan ketika karyawan melampiaskan frustrasinya dengan mengumumkan pengunduran diri di media sosial? (Freepik)
Ilustrasi: Apa penyebab loud quitting, yang dilakukan ketika karyawan melampiaskan frustrasinya dengan mengumumkan pengunduran diri di media sosial? (Freepik)

PejuangKantoran.com - Salah satu istilah di tempat kerja paling populer tahun lalu adalah quiet quitting atau pengunduran diri secara diam-diam. Namun, tahun ini istilah itu tergeser oleh “loud quitting” atau pengunduran diri secara gaduh.

Yang dimaksud secara gaduh, atau terang-terangan, adalah ketika karyawan mengumumkan pengunduran diri mereka di media sosial atau menyampaikan keluhan secara vokal mengenai situasi di tempat kerja melalui media sosial.

Para pekerja ini sering berdiskusi untuk meninggalkan pekerjaannya melalui TikTok atau Instagram Live untuk menjadi viral, agar masalah mereka diketahui banyak orang.

Baca Juga: Lepaskan Image Boy Band, Nicholas Galitzine Menerima Peran He-Man Di Masters Of The Universe

Apa itu loud quitting?

Menurut State of the Global Workplace Report Gallup tahun 2023, hampir satu dari lima karyawan berhenti bekerja dan menyampaikannya di depan publik.

Tujuannya untuk melakukan komplain atas situasi atau kebijakan perusahaan. Selain menyampaikannya melalui media sosial, karyawan umumnya juga menyatakannya saat sesi exit interview.

Intinya, loud quitting menjadi cara bagi karyawan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak happy di tempat kerja. 

Dengan loud quitting, karyawan secara aktif menyerukan kondisi kerja dengan membuat pernyataan yang kuat, perdebatan sengit, atau melakukan tindakan dramatis.

Baca Juga: Bisakah Resign tanpa Pamit atau Berhenti dari Pekerjaan Baru Tanpa One Month Notice?

Penyebab loud quitting:

1. Masalah yang tidak terselesaikan

Karyawan mungkin sering mengeluhkan perlakuan tidak adil, kurangnya pengakuan, atau konflik yang tidak terselesaikan.

Ketika karyawan yakin bahwa kekhawatiran mereka diabaikan oleh manajemen, mereka mungkin akan melakukan pengunduran diri secara gaduh untuk meminta perhatian dan mengungkap masalah ini.

2. Lingkungan kerja yang toxic

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Entrepreneur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X