Dampak Loud Quitting terhadap Perusahaan dan Moral Karyawan yang Bertahan Sama-sama Buruk

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 31 Mei 2024 | 21:22 WIB
Ilustrasi: Loud quitting bisa berdampak signifikan terhadap perusahaan dan moral karyawan yang masih bekerja di perusahaan.  (Freepik/Msgrowth)
Ilustrasi: Loud quitting bisa berdampak signifikan terhadap perusahaan dan moral karyawan yang masih bekerja di perusahaan. (Freepik/Msgrowth)

PejuangKantoran.com - Bayangkan kalau seorang teman yang baru saja resign ternyata mem-posting email pengunduran dirinya di media sosial, dan menjadi viral karena dia memprotes konflik di kantor yang tak pernah digubris manajemen. Inilah yang disebut loud quitting.

Karyawan yang tidak puas dan tidak happy dengan situasi di kantor mengungkapkan rasa frustrasi mereka terhadap budaya perusahaan secara terbuka, menjadi gunjingan orang se-Indonesia.

Inilah fenomena yang makin sering terjadi saat ini, yang membuat setiap manajer geram dan karyawan lain (meskipun merasakan ketidakpuasan yang sama) jadi makin resah karena setiap kali harus menjawab pertanyaan banyak orang yang kepo.

Baca Juga: Penyebab Loud Quitting, ketika Karyawan Mengumumkan Pengunduran Diri di Media Sosial agar Viral

Inti dari loud quitting terletak pada upaya yang disengaja untuk menyebarkan ketidakpuasan, memastikan tidak hanya rekan kerja di kantor yang tahu alasan di balik pengunduran dirinya, melainkan juga khalayak yang lebih luas.

Padahal, loud quitting bisa berdampak signifikan terhadap perusahaan dan moral karyawan yang masih bekerja di perusahaan. Ini beberapa dampak loud quitting:

Mengikis kepercayaan dan stabilitas

Pengunduran diri secara tiba-tiba akan merusak rasa percaya dan stabilitas di dalam perusahaan.

Ketika karyawan menyaksikan rekan kerja mereka resign dengan cara yang bikin gempar, hal ini menciptakan ketidakpastian mengenai masa depan perusahaan dan keamanan kerja mereka sendiri.

Menimbulkan persepsi negatif

Pengunduran diri yang diumumkan secara publik bisa merusak reputasi perusahaan baik secara internal maupun eksternal.

 

Baca Juga: Dear Pemerintah, Apakah Karyawan yang Sudah Punya Tanggungan KPR Masih Bayar Tapera?

Karyawan mungkin menganggap perusahaan sedang tidak stabil, atau dikelola dengan buruk.

Sementara klien dan mitra mungkin mempertanyakan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan karyawan dan profesionalisme mereka.

Memperburuk stres di tempat kerja

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Culture Monkey

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X