Bahkan, terdapat kasus yang sampai membuat peserta pasrah dan memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Terkait kasus yang terjadi dalam dinamika PPDS, Damono menjelaskan stres merupakan akumulasi ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah bagi jiwa yang rapuh.
Baca Juga: Boga Group Buka Lowongan Kerja Sebagai Promosi dan Public Relations
"Ketika manusia tidak mampu meregulasi rasa frustasi yang dialami, maka dapat memicu depresi," terangnya.
Selain itu, Darmono menegaskan faktor yang melandasi stres dan depresi tersebut.
"Faktor yang melandasi stres dan depresi calon dokter spesialis yakni daya mental yang rendah, jiwa yang rapuh, dan tidak tahan uji," tegasnya.
"Menjadi dokter sejatinya adalah menjalankan tugas pengabdian kemanusiaan yang mulia. Perlu kejernihan dan niat yang suci untuk melayani orang sakit," pungkasnya.
Komentar IDI soal perundungan
Mengenai dugaan kasus perundungan di kalangan mahasiswa kedokteran, pihak Ikatan Dokter Indonesia menentang segala bentuk bullying.
Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Kemampuan Komunikasi untuk Karyawan Agar Karir Melejit
Ketua Dewan Pertimbangan IDI Jawa Barat, Eka Mulyana, mengklaim bahwa tindakan perundungan bertentangan dengan kode etik kedokteran.
"Kami menentang segala bentuk perundungan, termasuk di kalangan dokter, karena itu bertentangan dengan sumpah dokter dan kode etik kedokteran," kata Eka, saat konferensi pers di Bandung, pada Selasa (20/8/2024).***