Penurunan ini juga bisa dikaitkan dengan munculnya alat komunikasi digital, yang mengurangi komunikasi verbal tatap muka.
Peneliti menunjukkan bahwa tren ini menyangkut semua jenis kelamin dan kelompok usia. Pesan teks dan jejaring sosial secara bertahap menggantikan komunikasi verbal yang merupakan percakapan tradisional, sehingga mengubah kebiasaan kita dalam berkomunikasi.
Penelitian ini menyoroti keragaman dalam perilaku individu. Analisis mengungkapkan bahwa di antara subjek yang diteliti, orang yang mengucapkan kata paling sedikit adalah seorang laki-laki yang mengucapkan kurang dari 100 kata per hari.
Baca Juga: Jangan Bingung saat Ditanya 'Pencapaian Terbesar Kamu' saat Wawancara Kerja, Ini Cara Menjawabnya!
Di sisi lain, orang yang mengucapkan lebih dari 120.000 kata per hari (paling banyak) ternyata juga seorang pria. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa perbedaan antara individu jauh lebih jelas daripada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Peneliti lantas menekankan pentingnya untuk tidak menggeneralisasi temuan tersebut. Kemampuan bicara ternyata lebih bergantung pada kepribadian dan konteks daripada jenis kelamin.
Fakta tersebut mengajak kita untuk memikirkan kembali stereotip yang terus-menerus tentang komunikasi gender. Jadi anggapan bahwa perempuan lebih banyak berbicara tidak selalu benar.