Pejuangkantoran.com – Dua pendaki Wanita asal Indonesia Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti meninggal saat menjalakan ekspedisi Puncak Carstensz Pyramid di Pegunungan Jayawijaya, Mimika, Papua Tengah.
Keduany meninggal ketika dalam proses turun dari puncak Carstensz Pyramid pada Ahad 2 Maret 2025, dan disebutkan bahwa penyebabnya adalah acute mountain sickness dan hypothermia.
Carstensz Pyramid atau warga lokal menyebutnya dengan nama Ndugu Ndugu adalah puncak tertinggi di Indonesia, 4884 meter di atas permukaan laut (mdpal). Gunung ini adalah bagian dari Pegunungan Jayawijaya yang menjadi satu-satunya pegunungan di wilayah ekuator (khatulistiwa) yang mempunyai salju abadi di puncaknya.
Carstensz Pyramid sebagai puncak tertinggi di Oseania adalah salah satu dari World Seven Summits bersama Mount Elbrus sebagai puncak tertinggi di benua Eropa, Mount Everest sebagai puncak tertinggi di Asia, Mount Aconcagua sebagai puncak tertinggi di Amerika Selatan, Denali atau Mount McKinley sebagai gunung dengan dinding tegak lurus tertinggi, Mount Kilimanjaro sebagai puncak tertinggi di benua Afrika, Mount Vinson atau dikenal juga dengan nema Vinson Massif sebagai puncak tertinggi di benua Antartika.
Satu-satunya Salju Abadi di Garis Khatulistiwa
Carstensz Pyramid oleh masyarakat adat Amungme dinamakan Nemangkawi Ninggok yang berarti Puncak Anak Panah Putih. Carstensz Pyramid juga dinamakan Puncak Jaya.
Nama Carstensz Pyramid diberikan setelah penjelajah Belanda Jan Carstenszoon pada tahun 1623 melihat gletser di opuncak gunung ketika hari cerah. Peristiwa ini jarang terjadi, dan Jan Carstenszoon adalah orang Eropa pertama yang melihat gletser tersebut.
Namun apa yang disaksikan oleh Jan Carstenszoon ini tidak pernah terverifikasi selama lebih dari dua abad, dan ia diejek di Eropa ketika dia mengatakan melihat salju di dekat khatulistiwa.
Wilayah bersalju di kawasan Pegunungan Jayawijaya ini yang pertama kali dijelajahi malah salju di Puncak Trikora, sekitar 170 kilometer sebelah timur Carstensz Pyramid. Tempat ini dcapai awal tahun 1909 oleh seorang penjelajah Belanda, Hendrik Albert Lorentz dengan enam kuli Dayak Kenyah yang direkrut dari Apo Kayan di Kalimantan.
Baca Juga: Berapa Anggaran PON Aceh-Sumut 2024 Dibandingkan PON Papua 2020 yang Mencapai 10 T?
Puncak Carstensz Pyramid sendiri bisa dibilang malah tidak ada salju. Namun ada sejumlah gletser di dindingnya yaitu Gletser Carstensz, West Northwall Firn, East Northwall Firn, dan Gletser Meren yang sudah menghilang di Lembah Meren (meren dalam bahasa Belanda berarti "danau").
Gletser di di kawasan ini jumlahnya tidak terlalu berfluktuasi walaupun berada di wilayah khatulistiwa, Ini karena variasi suhu rata-rata sepanjang tahun tidak terlalu besar (sekitar 0,5 °C).