news

Jepang Kekurangan 500.000 Tenaga Kerja di Sektor Pariwisata, Pekerja Asing Diundang Masuk!

Jumat, 21 Maret 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi: Sektor pariwisata di Jepang kekurangan sekitar 500.000 tenaga kerja, dan membuka pintu bagi pekerja asing yang berminat mengisi kekosongan. (Unsplash/Bady Abbas)

PejuangKantoran.com - Pariwisata Jepang saat ini makin tumbuh pesat. Tahun 2024 saja, sudah ada 36,9 juta orang yang mengunjungi negara tersebut. Katanya sih, tahun ini jumlah wisatawan bakal tembus 40 juta!

Namun di balik euforia itu, Jepang ternyata lagi pusing sendiri. Pasalnya mereka kekurangan tenaga kerja di sektor pariwisata, dan hal ini bisa jadi ancaman serius buat target mereka mendatangkan 60 juta turis pada tahun 2030.

Menurut laporan dari Asia Pacific Institute of Research, Jepang bakal kekurangan sekitar 536.000 pekerja di bidang pariwisata pada tahun 2030. Bisa kebayang kan, betapa kewalahannya hotel, restoran, pemandu wisata, sampai sopir bus nanti?

Baca Juga: Berkah Ramadan, Omsetnya Pengusaha Kosmetik Binaan BRI Melesat

“Saat ini kita sudah mulai kekurangan tenaga kerja di industri ini,” ujar Masaru Takayama, presiden dari Spirit of Japan Travel yang berbasis di Kyoto. Menurutnya, hal ini disebabkan waktu pandemi banyak perusahaan wisata terpaksa melakukan PHK.

Nah, para pekerja yang dulu dipecat itu sekarang sudah mendapat pekerjaan baru di bidang lain, dan mereka tampaknya tidak akan kembali. “Jadi kita tidak hanya kehilangan orangnya, tetapi juga kehilangan skill dan pengalaman mereka,” tambah Takayama.

Masalah ini makin parah di daerah-daerah rural Jepang, yang sebenarnya punya potensi wisata besar, tapi tidak ada orang yang bisa mengelola atau melayani turis dengan baik. Ironis banget, kan?

Di sisi lain, pembangunan hotel-hotel baru di Jepang makin gila-gilaan karena investor berlomba-lomba memanfaatkan ledakan pariwisata. Hanya saja, tampaknya mereka tidak mempertimbangkan jumlah tenaga kerja yang ada.

Akibatnya, di tempat-tempat wisata populer seperti resor ski Niseko di Hokkaido, gaji staf pariwisata naik sampai tiga kali lipat dibanding beberapa tahun lalu, kata Takayama.

Beberapa perusahaan Jepang mulai terpikir untuk memakai artificial intelligence (AI) untuk menutupi kekurangan tenaga kerja ini. Hanya saja, penggunaan robot AI untuk hotel dan bisnis pariwisata lain sepertinya tidak memungkinkan.

Baca Juga: Mengapa Satine Zaneta Bilang Sutradara 'Penjagal Iblis: Dosa Turunan' Kurang Suka Suaranya?

Takayama menegaskan bahwa Jepang butuh tenaga kerja, dari sopir bus, pemandu wisata, sampai manajer hotel. AI tidak akan bisa menggantikan sentuhan manusia di industri pariwisata.

“Masalah terbesarnya adalah bahwa jam kerjanya panjang, sering kerja di akhir pekan, dan gajinya tidak selalu sebanding. Hal-hal itu bikin anak muda Jepang enggan bekerja di bidang ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Ashley Harvey, analis pemasaran pariwisata yang sudah lama menetap di Jepang, sepakat dengan hal tersebut.

“Kerja di pariwisata memang tidak gampang, dan kondisi kerjanya sering lebih buruk dibanding sektor lain. Anak-anak muda Jepang sekarang juga pengen punya work-life balance, jadi makin susah cari orang untuk mengisi posisi itu,” kilahnya.

Halaman:

Tags

Terkini