PejuangKantoran.com - Konflik di tempat kerja wajar terjadi. Itulah risiko bekerja bersama dengan banyak orang yang memiliki berbagai latar belakang, gaya komunikasi, dan kepribadian.
Namun, jika tidak ditangani dengan baik, konflik kecil bisa melebar ke mana-mana. Bahkan, ini bisa membuat suasana kerja jadi tidak nyaman.
Orang-orang bisa mulai berpihak, muncul ketegangan internal, semangat kerja menurun, dan ujung-ujungnya ada yang memilih resign. Padahal, biaya mengganti satu karyawan bisa mencapai 20% dari total gaji tahunan.
Baca Juga: Berawal Jadi Penyiar TV Dalam Negeri, Abdy Azwar Sekarang Jadi Presenter Berita di KBS News Seoul
Satu hal yang sering luput disadari, sekitar 34% konflik di tempat kerja justru dipicu oleh stres. Jadi, ini bukan hanya tentang yang salah atau benar, tetapi juga tentang kondisi mental yang mungkin sudah jenuh.
Kalau konflik sudah memengaruhi kinerja tim, saatnya manajer bertindak agar lingkungan kerja yang sehat dapat terwujud.
Kapan harus menghubungi HR?
Manajer tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian. Kalau situasinya sudah sensitif atau terlalu kompleks, HR bisa turun tangan sebagai pihak netral. Di sinilah peran HR akan diuji.
Karyawan juga perlu tahu bahwa mereka bisa minta bantuan HR kapan pun merasa tidak nyaman atau butuh tempat cerita yang aman.
Prinsipnya, kalau karyawan lebih nyaman bicara ke HR, maka opsi itu harus tersedia.
Cara HR menangani konflik
Setiap konflik di tempat kerja punya cerita masing-masing, tetapi ada beberapa langkah umum yang bisa dilakukan HR:
1. Pastikan kedua pihak siap bertemu
Tidak semua orang langsung siap duduk bersama. Jadi, pastikan dulu dua pihak bersedia untuk bicara dan mau dengar sudut pandang satu sama lain.
2. Harus netral
Peran HR di sini menjembatani atasan dan bawah dengan bersikap adil dan tidak memihak siapa pun. Ini membuat kedua belah pihak merasa didengar dan perasaannya dihargai.