"Fitur ini mengharuskan pengguna untuk menyetujui, pertama dengan memilih obrolan yang akan dibagikan, lalu dengan mengklik kotak centang agar obrolan tersebut dibagikan ke mesin pencari," tambah Stuckey.
Jadi, proses tersebut bersifat opt-in, di mana pengguna secara sadar memilih chat untuk dibagikan, lalu mencentang kotak agar bisa diindeks oleh mesin pencari.
Baca Juga: Mau Jadi Jutawan? Ini Rahasia Grant Cardone Bangun Kekayaan yang Bisa Kamu Ikuti!
Namun, pihak OpenAI menyadari fitur ini terlalu berisiko karena banyak pengguna tidak menyadari konsekuensi dari pilihan mereka.
Fitur berbagi sudah dihapus
Sekarang, OpenAI sudah menghapus opsi berbagi untuk mesin pencari dan menggantinya dengan sistem tautan acak yang tidak mengandung kata kunci.
Mereka juga sedang bekerja sama dengan Google dan mesin pencari lain untuk menghapus konten yang sudah terindeks.
Meski begitu, banyak data yang sudah terlanjur diarsipkan oleh Van Ess dan pihak lain. Menariknya, dalam proses pencarian tersebut Van Ess justru memanfaatkan AI lain, yaitu Claude, untuk menemukan kata kunci paling efektif.
Untuk melacak percakapan terkait kejahatan, Claude menggunakan kata-kata seperti “without getting caught”, “avoid detection”, atau “get away with”.
Sedangkan untuk menemukan pengakuan pribadi, kata kunci seperti “my salary”, “my SSN”, “diagnosed with”, atau “my therapist” terbukti ampuh.
Baca Juga: Perubahan Kecil Ini Bisa Membuat Wawancara Kerja Kamu Lebih Berkesan bagi Rekruter. Apa Itu?
Kasus ini menjadi pengingat bahwa jejak digital sulit dihapus, begitu suatu informasi diunggah ke internet. Fitur baru ChatGPT yang awalnya dibuat untuk berbagi kemudahan, ternyata bisa menjadi bumerang kalau tidak diikuti dengan perlindungan privasi yang kuat.
Buat kita semua, pelajarannya jelas: selalu pikir dua kali sebelum membagikan informasi, apalagi yang sifatnya sensitif, meskipun lewat platform yang dipercaya.