news

212.000 Perempuan Mundur dari Dunia Kerja Sejak Januari 2025 sejak WFH Tak Memungkinkan Lagi

Selasa, 12 Agustus 2025 | 11:35 WIB
Ilustrasi: Banyak ibu bekerja yang meninggalkan pekerjaan karena tak bisa lagi bekerja dari rumah. (PejuangKantoran.com/Made with Google AI)

Sementara itu, eksodus karyawan senior setelah kebijakan Trump tersebut justru mengancam daya saing perusahaan, demikian menurut studi “Survei Walr”terhadap resume karyawan di Microsoft, SpaceX, dan Apple pada tahun 2024.

Fenomena itu dinilai telah menunjukkan, hampir dua pertiga eksekutif C-suite (level Chief) mengaku kebijakan ini membuat banyak perempuan keluar, sehingga memicu kesulitan rekrutmen dan menurunkan produktivitas.

"Kebanyakan keputusan ini datang dari orang-orang yang punya 'privilege' karena mereka punya orang yang suka memasak, menyetrika, atau menjemput anak ke daycare," tutur Heggeness.

Baca Juga: Aturan Australia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Main Media Sosial Ditakutkan Bisa Melanggar Privasi

Perempuan pekerja juga masih dihantui masalah lain seperti krisis biaya dan akses childcare. Hal ini dipicu oleh berkurangnya pendanaan federal untuk penitipan anak secara drastis pada 2025, sehingga banyak pusat penitipan tutup atau menaikkan tarif.

Deportasi massal juga memperparah situasi, mengingat sekitar 20 persen tenaga kerja di sektor ini adalah imigran.

Akibatnya, pengeluaran keluarga AS untuk pendidikan anak yang sempat turun pada 2023-2024 kembali melonjak sejak akhir 2024, naik 3,3 persen di kuartal IV, dan terus naik sepanjang 2025.

Perhitungan biaya makin tidak masuk akal bagi perempuan, pungkas Vogtman.*

Halaman:

Tags

Terkini