212.000 Perempuan Mundur dari Dunia Kerja Sejak Januari 2025 sejak WFH Tak Memungkinkan Lagi

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 12 Agustus 2025 | 11:35 WIB
Ilustrasi: Banyak ibu bekerja yang meninggalkan pekerjaan karena tak bisa lagi bekerja dari rumah. (PejuangKantoran.com/Made with Google AI)
Ilustrasi: Banyak ibu bekerja yang meninggalkan pekerjaan karena tak bisa lagi bekerja dari rumah. (PejuangKantoran.com/Made with Google AI)

PejuangKantoran.com – Kebijakan Presiden AS Donald Trump secara bertubi-tubi mempengaruhi kehidupan warganya. Di dunia kerja, misalnya, mulai 2025 fleksibilitas kerja semakin tak mungkin dilakukan.

Trump memerintahkan pegawai federal kembali bekerja di kantor lima hari sepekan, padahal banyak karyawan yang sudah bekerja secara remote di kota lain, atau terbiasa WFH atau bekerja jarak jauh.

Kebijakan ini ternyata berdampak besar terhadap gelombang mundurnya tenaga kerja atau karyawan wanita di AS. Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis 1 Agustus 2025, sebanyak 212.000 perempuan berusia 20 tahun ke atas dilaporkan mundur dari dunia kerja sejak Januari 2025.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo & Georgina Rodríguez Resmi Bertunangan, Pamer Cincin Berlian Mewah

Data tersebut juga mengungkapkan, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan usia 25–44 yang tinggal bersama anak di bawah lima tahun turun hampir tiga poin persentase, dari 69,7 persen menjadi 66,9 persen.

"Ini kemunduran besar," ujar Misty Lee Heggeness, profesor ekonomi dan urusan publik di University of Kansas, seperti dikutip TIME pada Minggu (10/11/2025).

Padahal, sejak 2022 hingga awal 2025, angka tersebut melonjak berkat kebijakan kerja fleksibel yang membantu perempuan lebih leluasa mengasuh anak sambil mencari penghasilan untuk keluarga.

Tanggung jawab pengasuhan

Menurut laporan Flex Index, proporsi perusahaan Fortune 500 yang mewajibkan kerja penuh di kantor naik dari 13 persen di akhir 2024 menjadi 24 persen pada kuartal II 2025. Amazon dan JP Morgan adalah beberapa perusahaan besar yang mengikuti langkah tersebut.

Dampak kewajiban untuk kembali ke kantor paling dirasakan oleh perempuan berpendidikan sarjana. Tingkat partisipasi mereka yang sempat menyentuh 70,3 persen pada September 2024, kini turun menjadi 67,7% pada Juli 2025.

Baca Juga: Intermittent Fasting, Bukan Cuma Jaga Bentuk Tubuh Tapi Juga Bikin Otak Lebih Tajam

"Bukan kebetulan kalau partisipasi perempuan turun ketika fleksibilitas kerja hilang," kata Julie Vogtman, Direktur Senior Pusat Hukum Perempuan Nasional di AS dalam artikel yang sama.

Sebab, menurut penelitian, perempuan justru memanfaatkan fleksibilitas untuk bekerja jarak jauh agar dapat bertahan di dunia kerja, tegasnya.

"Perempuan masih memikul porsi terbesar tanggung jawab pengasuhan. Ketika beban ini tak lagi seimbang dengan pekerjaan, mereka lebih mungkin mundur dibanding pria," jelas Vogtman.

Kesulitan rekrutmen

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X