PejuangKantoran.com – Kebijakan Presiden AS Donald Trump secara bertubi-tubi mempengaruhi kehidupan warganya. Di dunia kerja, misalnya, mulai 2025 fleksibilitas kerja semakin tak mungkin dilakukan.
Trump memerintahkan pegawai federal kembali bekerja di kantor lima hari sepekan, padahal banyak karyawan yang sudah bekerja secara remote di kota lain, atau terbiasa WFH atau bekerja jarak jauh.
Kebijakan ini ternyata berdampak besar terhadap gelombang mundurnya tenaga kerja atau karyawan wanita di AS. Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis 1 Agustus 2025, sebanyak 212.000 perempuan berusia 20 tahun ke atas dilaporkan mundur dari dunia kerja sejak Januari 2025.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo & Georgina Rodríguez Resmi Bertunangan, Pamer Cincin Berlian Mewah
Data tersebut juga mengungkapkan, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan usia 25–44 yang tinggal bersama anak di bawah lima tahun turun hampir tiga poin persentase, dari 69,7 persen menjadi 66,9 persen.
"Ini kemunduran besar," ujar Misty Lee Heggeness, profesor ekonomi dan urusan publik di University of Kansas, seperti dikutip TIME pada Minggu (10/11/2025).
Padahal, sejak 2022 hingga awal 2025, angka tersebut melonjak berkat kebijakan kerja fleksibel yang membantu perempuan lebih leluasa mengasuh anak sambil mencari penghasilan untuk keluarga.
Tanggung jawab pengasuhan
Menurut laporan Flex Index, proporsi perusahaan Fortune 500 yang mewajibkan kerja penuh di kantor naik dari 13 persen di akhir 2024 menjadi 24 persen pada kuartal II 2025. Amazon dan JP Morgan adalah beberapa perusahaan besar yang mengikuti langkah tersebut.
Dampak kewajiban untuk kembali ke kantor paling dirasakan oleh perempuan berpendidikan sarjana. Tingkat partisipasi mereka yang sempat menyentuh 70,3 persen pada September 2024, kini turun menjadi 67,7% pada Juli 2025.
Baca Juga: Intermittent Fasting, Bukan Cuma Jaga Bentuk Tubuh Tapi Juga Bikin Otak Lebih Tajam
"Bukan kebetulan kalau partisipasi perempuan turun ketika fleksibilitas kerja hilang," kata Julie Vogtman, Direktur Senior Pusat Hukum Perempuan Nasional di AS dalam artikel yang sama.
Sebab, menurut penelitian, perempuan justru memanfaatkan fleksibilitas untuk bekerja jarak jauh agar dapat bertahan di dunia kerja, tegasnya.
"Perempuan masih memikul porsi terbesar tanggung jawab pengasuhan. Ketika beban ini tak lagi seimbang dengan pekerjaan, mereka lebih mungkin mundur dibanding pria," jelas Vogtman.
Kesulitan rekrutmen
Artikel Terkait
Boeing Buka Lowongan Flight Operations Engineer – Aerodynamics, Penempatan di Jakarta, KL, atau Bangkok
3 Prinsip Investasi Abadi Benjamin Graham: Falsafah yang Membentuk Warren Buffett
Studi Ungkap Gen Z Merasa Tak Nyaman Melihat Ibu Menyusui di Ruang Publik, Privasi Jadi Faktor Utama
PPATK Rampungkan Analisis 122 Juta Rekening Dormant, Mayoritas Sudah Kembali Aktif
4 Gaya Komunikasi yang Perlu Kamu Kenali agar Selalu Nyambung dan Kerja Sama Tim Makin Lancar
Cara Menjual Ide Besar ke Atasan, yang Penting Jangan Langsung Baper Kalau Ditolak
Kantor Bising Bikin Konsentrasi Buyar, Ini Alasan Akustik Penting untuk Produktivitas saat Kerja!